CARI BERKAH KLIK DI SINI

14 Juni 2010

Parpol Menilai Konsultan Politik Cenderung Mengedepankan Bisnis

Keniscayaan bagi Parpol

Parpol Menilai Konsultan Politik Cenderung Mengedepankan Bisnis

JAKARTA - Keberadaan konsultan politik, yang mewarnai dunia politik dalam satu dekade terakhir, menjadi sebuah keniscayaan. Jasa konsultan politik dibutuhkan untuk melihat kecenderungan perilaku pemilih dan memberikan masukan obyektif bagi parpol dalam upayanya memenangi kontestasi politik.

Demikian rangkuman pendapat yang disampaikan Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso dan Wakil Ketua Umum PPP Chozin Chumaidy, secara terpisah di Jakarta, Sabtu (12/6).

Konsultan politik yang kredibel dan mendasarkan analisisnya pada kaidah kelimuan, menurut Priyo, sangat dibutuhkan untuk memotret kondisi masyarakat. Bahkan, keberadaannya dibutuhkan untuk memenangi kontestasi politik di semua lini, mulai dari pemilihan umum presiden dan pemilu legislatif hingga pemilu kepala daerah langsung di provinsi dan kabupaten/kota.

Parpol, menurut Priyo, memiliki instrumen untuk memotret kondisi masyarakat. Meski demikian, tidak dimungkiri bahwa instrumen dalam parpol itu memiliki kecenderungan menyampaikan kondisi yang baik-baik saja. ”Karena itulah dibutuhkan second opinion (opini pembanding) dari konsultan politik yang lebih independen,” katanya.

Konsultan politik, menurut Chozin, juga bisa memberikan pencerahan bagi parpol dalam melihat realitas obyektif di lapangan. Hasil survei mengenai kecenderungan perilaku pemilih, misalnya, bisa dimanfaatkan parpol untuk menentukan prioritas target pemenangan massa pemilih di suatu wilayah sehingga upaya yang dilakukan parpol lebih efektif. ”Konsultan politik memang membantu keberhasilan PPP dalam memenangi pilkada. Memang ada juga yang gagal, seperti di Pilkada Kabupaten Ngawi,” katanya.

Sisi gelap konsultan

Meski sangat dibutuhkan, kecenderungan negatif sejumlah konsultan politik yang mengedepankan aspek bisnis dan mengabaikan kaidah keilmuannya, menurut Priyo, sangat mengkhawatirkan bagi masa depan perpolitikan di Indonesia.

”Persaingan konsultan politik yang menggunakan cara-cara yang sudah melewati batas dari khazanah keilmuan berpotensi merusak masa depan perpolitikan kita,” katanya.

Chozin juga melihat, sejumlah konsultan politik berupaya mengintervensi opini publik menjelang atau pada saat berlangsungnya pemungutan suara. ”Kami mengusulkan agar hasil survei dan penghitungan cepat yang dihasilkan konsultan politik ini diatur dalam undang-undang pemilu ke depan,” katanya.

Namun, konsultan pencitraan pasangan calon bupati-wakil bupati Sidoarjo, Jawa Timur, Yuniwati Ternyana-Sarto, Asip Hasani, misalnya, tidak menerima begitu saja tawaran dari pasangan itu. Ia mempertimbangkan dulu potensi dan rekam jejak calon sebelum memutuskan bergabung dengan tim pencitraan Yuniwati, mantan Wakil Presiden Direktur Bidang Humas PT Lapindo Brantas.

”Kami berhitung apa saja yang harus dilakukan untuk mendongkrak elektabilitas Bu Yuni,” ungkap Asip Hasani. (Raz/why/Kompas)***

Sumber : Kompas, Senin, 14 Juni 2010 | 04:52 WIB

9 Juni 2010

Hari Ini, Sepeda Lawas Ikut Pawai ADIPURA 2010

Hari Ini, Sepeda Lawas Ikut Pawai ADIPURA 2010

INDRAMAYU – Hari ini, Rabu (9/6) pagi, Pawai Adipura 2010 Kabupaten Indramayu digelar. Sekitar ratusan pecinta sepeda lawas (kuno) yang tergabung organisasi Pedal (Pecinta Sepeda Lawas) Indramayu, sejak pagi mereka sudah berkumpul di halaman Pendopo Pemerintah Kabupaten Indramayu. Konon, mereka ingin berpartisipasi untuk memeriahkan acara iring-iringan mengarak Piala Adipura 2010 yang baru saja diterima Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) pada Selasa (8/6) siang di Istana Negara, Jakarta dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Drs. H. Yayan Mulyantoro MM terlihat ikut mengawal keberangkatan pawai Adipura 2010 berkeliling wilayah Kabupaten Indramayu bersama sejumlah pejabat penting lainnya.

Ada juga Heri Helman, Kepala Dinas Kebersihan dan pertamanan Kabupaten Indramayu yang sejak dulu mencintai sepeda kuno bersama sejumlah pejabat lainnya, dan juga Ormas pemuda tutur menyemarakan pawai Adipura. Kemeriahan itu, tampaknya sebagai tumpahan karena Kabupaten Indramayu berhasil menyabet penghargaan sebagai kota terbersih di Indonesia untuk ke sekian kalinya.

Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin mengatakan, seluruh lapisan masyarakat Indramayu harus ikut bertanggung jawab terhadap kebersihan daerahnya. “Mari kita jaga kebersihan lingkungan masing-masing. Pertahankan gelar sebagai kota terbersih untuk selama-lamanya,” katanya. (Satim)*** Foto-foto : Satim

Pawai Adipura 2010

Pawai Adipura 2010

Iring-iringan kendaraan hias dari lima kotamadya di Jakarta dan ribuan pengendara sepeda menyemarakkan Pawai Adipura 2010 di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (8/6). Lima wilayah kota di DKI Jakarta mendapat penghargaan Adipura 2010. (KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)***

Sumber : Kompas, Rabu, 9 Juni 2010

Adipura Bisa Dicabut

Penghargaan Kalpataru diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/6), kepada 12 orang atau kelompok yang berjasa dalam pembangunan lingkungan. Beberapa yang menerima (dari kiri ke kanan) untuk kategori Perintis Lingkungan Djohan Riduan Hasan, Mateus Bere Bau, Kholifah, Mahyiddin, dan Ujang Solikhin. Adapun penerima Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan adalah Yohanes Ebo dan Sumadi. (KOMPAS/ALIF ICHWAN)***

Adipura Bisa Dicabut

Penghargaan Kalpataru Diserahkan

JAKARTA - 140 kota dengan berbagai kategori mendapat penghargaan Adipura 2010 di Jakarta, Selasa (8/6). Namun, sejumlah kota yang kualitas lingkungan dan kebersihannya buruk juga mendapat penghargaan tersebut sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat.

Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta mengatakan, penilaian untuk penghargaan Adipura hanya didasarkan pada aspek kebersihan lingkungan dari sampah.

Karena itu, penilaian bisa jadi berbeda dengan indeks kualitas lingkungan yang juga menilai aspek kualitas air, kualitas udara, tutupan lahan, dan sebagainya.

”Tadi dalam penyampaian anugerah lingkungan Kalpataru, Adipura, dan Adiwiyata oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikemukakan, kalau tidak terbukti, penghargaan akan dicabut,” kata Hatta.

Adipura 2010 untuk kategori Kota Metropolitan diterima 9 kota meliputi Palembang, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Surabaya, Tangerang, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Bekasi. Selebihnya, untuk kategori Kota Besar (4 kota), Kota Sedang (41 kota), dan Kota Kecil (86 kota).

Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Hermien Roosita mengatakan, idealnya, penilaian Adipura untuk kota Jakarta melihat pula pengelolaan 13 sungai yang selama ini menampung limbah dan sampah.

Wajib beri bantuan

Secara terpisah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Selasa pagi, memimpin peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pada acara tersebut Presiden menyatakan, negara-negara maju yang memiliki sumber daya berupa uang, teknologi, dan pengalaman, berkewajiban memberi bantuan kepada negara-negara pemilik hutan tropis.

”Hutan hujan tropis adalah paru-paru dunia. Kawasan pertama adalah Indonesia, pusatnya Kalimantan. Kedua di Amazon, Brasil. Ketiga Kongo dan sekitarnya. Manusia sejagat menginginkan paru-paru sehat ketika udara di bumi mulai tidak sehat karena pencemaran, sebagian dimulai dari revolusi industri,” kata presiden.

Acara ditandai dengan penyerahan penghargaan dari Presiden kepada para pejuang di bidang lingkungan hidup, antara lain, berupa penghargaan Kalpataru, Adipura, dan Adiwiyata.

Dalam kesempatan ini Presiden juga menyerukan kembali kepada para pemimpin di daerah agar terus menjaga lingkungan hidup. Dalam sambutannya, Presiden sempat bercerita tentang perjalanannya meninjau hutan bakau yang dihutankan kembali di wilayah Taman Wisata Alam di Muara Angke, Jakarta Utara, sehari sebelum acara di Istana Negara ini. Ia mengatakan, di Indonesia ada delapan juta hektar hutan bakau yang harus dijaga. (NAW/OSD/Kompas)***

Sumber : Kompas, Rabu, 9 Juni 2010 | 04:32 WIB

8 Juni 2010

Hari Ini, Bupati Indramayu Menerima Penghargaan Adipura

Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (kanan).
Hari Ini, Bupati Indramayu Menerima Penghargaan Adipura

INDRAMAYU – Hari ini, Selasa (8/6) pagi, di Istana Negara, Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) akan menerima penghargaan Adipura dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia untuk Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat itu, karena Indramayu berhasil mempertahankan menjadi kota kecil terbersih di Indonesia. Demikian informasi yang diterima Pendopo Indramayu dari berbagai sumber yang dihubungi kemarin.

Menurut rencana, Selasa (8/6) sore, Piala Adipura itu, konon, akan diarak dari mulai perbatasan Kabupaten Indramayu-Kabupaten Subang di Blok Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu oleh sejumlah elemen masyarakat, para pejabat, dan beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) menuju Pendopo Bupati Indramayu yang diperkirakan tiba menjelang petang.

Menurut Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Darma Ayu Indramayu, H. Suyanto ST yang mengaku akan ikut menjemput dan mengarak Piala Adipura itu mengatakan, pihaknya bersama sejumlah elemen lain akan melakukan acara penjemputan dan mengarak beramai-ramai penghargaan itu dari perbatasan Indramayu-Subang menuju ke Pendopo Bupati Indramayu, Pusat Pemerintahan Kabupaten Indramayu.

“Seusai Ba’da Shalllat Dhuhur, kami langsung berangkat menuju Sewo bersama tim penjemputan Piala Adipura. Kemungkinan menjelang petang, penghargaan kebanggaan di bidang kebersihan kota itu, baru tiba di Pendopo Bupati Indramayu,” kata Suyanto, Senin (7/6) siang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Indramayu, Heri Hielman bersama Kepala Kantor Lingkungan Hidup, Aep Surahman, konon, sudah berangkat ke Jakarta untuk mendampingi Bupati Indramayu sejak Senin (7/6) siang. Sumber-sumber di lingkungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Indramayu menerangkan, penghargaan Adipura untuk keempat kalinya itu, tidak terlepas pula salah satunya berkat jasa-jasa para petugas kebersihan setempat yang berseragam kuning-kuning, yang secara rutin memelihara kebersihan dan keindahan sepanjang kota Indramayu baik siang maupun malam.

Setelah tiba di Pendopo Bupati Indramayu, Selasa (8/6) sore, acara selanjutnya akan digelar secara semarak untuk mengarak Piala Adipura tersebut berkeliling wilayah Kabupaten Indramayu pada Rabu (9/6) siang hingga menjelang petang. Kabarnya, Bupati Indramayu Dr. H. Irianto Ms Syafiuddin bersama istrinya, Ny. Hj. Anna Sophana yang juga calon Bupati Indramayu ini, akan ikut berkeliling sambil memegang Piala Adipura dan beberapa Penghargaan di bidang lingkungan berkeliling wilayah Kabupaten Indramayu.

Penghargaan Adipura yang diterima Pemerintah Kabupaten Indramayu, tampaknya mengulang sejarah tahun lalu. Karena pada Jumat, 5 Juni 2009 pagi, Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin saat itu di Istana Negara menerima penghargaan Adipura dari Pemerintah Republik Indonesia yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kebetulan saat itu, cuaca di wilayah Kabupaten Indramayu cerah, sehingga acara penyambutannya terbilang meriah.

Namun saat menerima penghargaan Adipura tahun 2010 ini, cuaca di wilayah Kabupaten Indramayu tak seindah dan secerah tahun lalu, karena sejak Senin (7/6) pagi hingga Selasa (8/6) siang, hujan dan gerimis masih menyirami Kota Mangga Indramayu. Mentari pun tak mau nongol dari peraduannya, kecuali mendung dan gerimis yang ikut mewarnai kemeriahan penerimaan Piala Adipura di tahun 2010 ini. (Satim)*** Foto-foto : Dok. mediacreative.co.id/satimterus.blogspot.com

7 Juni 2010

Muhammad N. Hata : Design Demokrasi dan Dinamikanya

Design Demokrasi dan Dinamikanya

Oleh Muhammad N. Hata

Salah satu persoalan yang mendasar dan sulit terpecahkan dalam demokrasi, adalah memungkinkannya setiap figur, latar belakang, dari mana dan untuk siapa dapat bermain dalam percaturan di atas papan masyarakat. Ini adalah kelemahan demokrasi hari ini yang dahulu pernah ditolak oleh Plato, karena demokrasi adalah sistem pemerintahan terburuk dan tak layak diaplikasikan. Namun seirama dengan tantangan zaman yang tak terbantahkan, kini menjadi “Tuhan politik”, bukan Tuhan agama.

Pihak yang menggencarkan upaya demokratisasi ke semua lini, seringkali berada dibelakang tabir paradigma dikotomis (strukturalisme). Dalam konteks internasional yaitu Barat dan Timur. Dimana yang pertama adalah superior, maju, manusiawi, dan Kedua inferior, berkembang, dan bar-bar. Tekanan superior atas inferior tidak berlangsung mulus, namun sebaliknya yang berlaku adalah hukum arcimides. Fenomena demikian mendapatkan basis epistemologinya oleh S. Huntingten, bahwa akan terjadi benturan peradaban antara Barat dan Timur (class of civilization). Dan mendapatkan apologinya pada tragedi 11 September, runtuhnya menara kembar. Namun tragedi berdarah di Gaza, justru mematahkan ramalan Huntington. Class tidak lagi antara Barat dan Timur, melainkan Timur dengan Timur, Barat dengan Barat. Malaysia dengan Indonesia, Israel-Palestina, Kuba-Amerika, dan seterusnya. Ini adalah derivasi dari demokrasi yang diamini oleh penganutnya.

Begitu banyak orang berargumen perihal demokarasi di tanah air. Namun apapun gagasan yang dilontarkannya, tetap saja demokrasi adalah produk impor, yang dalam setiap alirannya selalu bermuara “lautan” Amerika. Demokrasi hanya sampai pada struktur sentral yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Struktur logika yang memungkinkan setiap individu keluar dalam kotak demokrasi sulit ditembus. Padahal di luar struktur dalam kotak, adalah bagian dari struktur yang tidak dapat dipisahkan dalam pembahasannya dalam elemen apapun.

Jika Gus Dur berpendapat demokrasi harus berangkat dari bawah, dari kelas dasar, dari rakjat djelata. Maka Amien Rais sebaliknya, yaitu dari struktur atas yang bergantung pada ketiga kekuatan itu. Sementara eksistensi media yang oleh banyak kalangan diamini sebagai kekuatan keempat, kini hanya menjadi mitos. Tidak ada media yang lepas dari intervensi penguasa. Independensi media baru di level teori. Dan sulit untuk tidak tunduk pada permainan “kayu”, dolar atau rupiah serta kepentingan minoritas mapan. Demokrasi ala Gus Dur dan Amien Rais dalam dinamikanya, kesan yang muncul di permukaan seringkali berlangsung secara kontradiktif dan polaritatif, tidak sebaliknya dialogis dan dialektis. Dan tetap saja proletar-marginal, dan orang kecil yang harus jadi tumbal.

Warna dan design demokrasi

Praktik demokrasi dalam Pemilu Kada di tahun 2010 pun berlangsung sama sebagaimana dijelaskan di muka, merasa atau tidak. Ambisi membangun daerah hanya kedok untuk merebut kursi empuk. Ceceran darah dan keringat yang membanjiri orang-orang di setiap pelososk desa tak akan berhenti, dan selalu menggenangi peradaban kita. Design yang seperti apalagi yang harus ditawarkan oleh para pembual.

Jangan salahkan orang yang tidak memilih, karena tidak memilih adalah pilihan dan hak setiap insan. Tidak memilih adalah ekspresi resistensi dari kelas yang merasa tidak diuntungkan dalam setiap praktek demokrasi. Upaya pemaksaaan dengan “api neraka” yang dibungkus dengan agama oleh lembaga agama atau tokoh agama, adalah pelanggaran prinsip demokrasi itu sendiri. Tekanan terhadap yang golput oleh lembaga atau elemen hukumnya, adalah bentuk deviasi yang kontra dengan asas demokrasi.

Persoalan lainnya adalah, demokrasi dalam permainannya tidak hanya terjebak pada nalar dualisme, yaitu menang kalah. Kalah dalam permainan bukan berarti tidak diuntungkan sama sekali. Karena ada beberapa kemungkinan. Pertama; figur yang terjun dalam kancah perang orientasinya hanya untuk materi dengan modus menjual suara dan memecah belah suara lawan (devide et impera).

Kedua; orientasi utamanya adalah kekuasaan, dengan menggadaikan apapun demi sejuknya ruangan istana rakyat, berapa miliar pun jumlahnya modal yang harus ditelorkan. Ketiga; hanya untuk menutupi catatan hitam yang lama tercoret di balik lembaran kusut yang dahulu tergores. Jurus yang terakhir seringkali diperagakan oleh sekian banyak calon inchumbent atau yang ada hubungannya dengan inchumbent. Karena sudah banyak contoh kasus yang selalu berakhir pada pencadukan pada incumbent pasca hajatan politik.

Jika fenomena demikian yang seringkali tampil dalam dinamika demokratisasi yang mewarnai tanah air kita termasuk di daerah kita, hemat saya ada beberapa point penting yang harus diejawantahkan. Karena pada prinsipnya setiap entitas memiliki kaitan langsung atau tidak langsung dengan elemen atau entitas lain.

Pertama; dalam pembacanya terhadap satu elemen tertentu baik yang di dalam struktur pemerintahan atau non pemerintahan (NGO), harus dikaitkan dengan bebebapa elemen lain. Kita tidak akan tuntas mengeja eksistensi parlemen tanpa harus diakitkan dengan eksekutif, yudikatif, media, masyarakat menengah dan kaum kecil lainnya.

Kedua; kendati masing-masing kelompok memiliki logikanya sendiri, namun bukan berarti keduanya akan terus berlangsung polaritatif, keduanya dapat didialogkan dan disintesiskan, dan ini adalah tugas semua elemen. Ketiga; vox populi vox dei hanyalah mitos yang harus didekontruksi, suara rakyat bukan suara Tuhan melainkan suara rakyat adalah duit (vox populi vox duit), karena masing masing individu yang masuk di kolom parlemen adalah representasi partai, bukan representasi rakyat. Oleh karenanya, yang harus kita lakukan adalah merobek baju partai ketika sudah berada dalam gedung yang dibiayai oleh rakyat.

Namun begitulah, pada satu sisi kedudukan rakyat menempati posisi tertinggi, sedangkan pada sisi yang lain hanya menjadi permainan elit-elit minoritas. Demokrasi yang tampak disekeliling kita hanya hegemoni minoritas atas mayoritas, dan diskriminasi mayoritas atas minoritas. Oleh karenanya mantra dari Pram bahwa pendidikan masyarakat harus dengan pergerakan dan pendidikan penguasa harus dengan perlawanan, tampaknya harus direfleksikan bareng, karena kurang begitu manjur. Pendidikan pergerakan hari ini bukan untuk perlawanan, bukan untuk membebaskan, melainkan hanyalah tangga untuk sampai status quo. [] wallahu a’lam.

Muhammad Nur. Hata,

Penulis adalah mahasiswa UI, FIB, Susastra

Catatan : Terima kasih atas kiriman tulisan karya Anda. Tentang tulisan Anda yang berjudul "Sastra dan Kebenarannya..." telah dimuat di blog satimterus.blogspot.com

Satim Masih Bertahan Juara Tenis Meja Perseorangan

TENIS MEJA

Satim Masih Bertahan

Juara Tenis Meja Perseorangan

PTMSI Kabupaten Indramayu Cari Bibit Unggul Petenis Meja Dari Desa

INDRAMAYU – Suasana rumah Ketua Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Indra Ruswadi S.Kep., Ns., MPH, Minggu (6/6) pagi hingga menjelang malam mendadak ramai. Massa yang datang bukan mau berunjuk rasa, namun mereka ingin menyaksikan secara langsung perebutan juara tenis meja perseorangan yang digelar di halaman rumah Indra Ruswadi di Blok B Desa Panyindangan Wetan, kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan langsung ditangani Indra Ruswadi dibantu Waji, keponakannya. Semua yang berminat dan memiliki kemampuan di cabang olahraga tenis meja boleh ikut daftar secara gratis tis-tis. “Invitasi Tenis Meja Perorangan ini untuk semua umur. Siapa pun boleh unjuk gigi untuk memperebutkan juara. Saya ingin mengetahui siapa saja yang memiliki kemampuan dan menjadi juara, untuk mengikuti langkah pembinaan selanjutnya di tingkat kabupaten,” kata Indra Ruswadi, Minggu (6/6) siang.

Dosen Akademi Keperawatan (Akper) Pemerintah Kabupaten Indramayu itu menjelaskan, hadiah yang disediakan berupa uang pembinaan dan piagam penghargaan dari Pengurus Kabupaten Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Indramayu. Hadiah dan piagam untuk Juara I, II, III, dan IV.

“Saya rela berkorban demi kebangkitan tenis meja di Kabupaten Indramayu. Sehingga cabang olahraga tenis meja harus benar-benar bermasyarakat hingga ke seluruh pelosok desa dan perkampungan. Cara saya ini untuk mencari bibit-bibit unggul atlet tenis meja. Dan program selanjutnya, anak-anak usia sekolah dasar pun tengah saya bidik untuk mengikuti kejuaraan tenis meja perorangan seperti ini,” ujarnya.

Invitasi Tenis Meja Perorangan yang diselenggarakan pada Minggu (6/6) itu, diikuti puluhan petenis meja yang datang dari berbagai desa yang ada di wilayah Kecamatan Sindang, Kecamatan Indramayu, dan Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Padahal, Indra menginginkan para petenis meja itu datang dari seluruh Kabupaten Indramayu, kecuali yang masuk dalam pembinaan atlet Divisi I dan Divisi II PTMSI Kabupaten Indramayu dilarang mengikuti pertandingan ini.

Gemuruh penonton yang didominasi warga desa setempat mulai terlihat sejak pertandingan tenis meja dimulai. Puluhan petenis meja yang terbagi dalam pool A, B, C, dan D bergiliran untuk unjuk gigi. Yang membuat para pemain tenis meja terkesan tegang dan ramai, karena pihak panitia sengaja tidak menggunakan sistem gugur. Sehingga pertandingan berlangsung agak lama, dari pagi hingga mejelang petang. Yang juara di masing-masing group bertanding lagi untuk memperebutkan posisi juara I, II, dan III. Sedangkan yang kalah dari masing-masing group pun masih harus bertanding lagi untuk memperebutkan juara IV.

Setelah melawati rentang waktu yang agak panjang dan masing-masing petenis meja bermandikan keringat hingga di babak grand final. Juara Tenis Meja Perorangan yang digelar Pengurus Kabupaten PTMSI Indramayu pada Minggu (6/6) itu disabet Satim (43), warga Blok C Desa Panyindangan Wetan. Satim tercatat selama lima tahun berturut-turut mampu mempertahankan gelar juara tenis meja perseorangan di Desa Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu sejak tahun 2005 hingga 2010 ini. Ia berhak meraih sejumlah uang dan piagam penghargaan dari Pengurus Kabupaten PTMSI Indramayu.

Sedangkan juara II diduduki Asep Syaefudin (30), warga Blok C Desa Panyindangan Wetan. Ia pun meraih hadiah uang dan piagam penghargaan dari Pengurus Kabupaten PTMSI Indramayu. Sementara Otoy (31), warga Blok Dukuh Desa Kenanga, Kecamatan Sindang hanya mampu di peringkat juara III. Ia pun masih meraih hadiah uang dan piagam penghargaan dari PTMSI Kabupaten Indramayu. Kemudian di peringkat juara IV ditempati Ade Surahman (35), warga Blok C Desa Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu.

“Hikmah yang bisa saya petik dari pergelaran invitasi tenis meja perorangan ini, saya sudah mulai mengetahui para juara tenis meja dari pelosok perdesaan. Tak lama lagi, saya ingin menggelar sejumlah kejuaraan tenis meja dari kelompok anak-anak, remaja, dan kelompok dewasa. Ini program saya untuk menjaring atlet-atlet tenis meja untuk masuk seleksi Divisi I dan Divisi II PTMSI Kabupaten Indramayu,” tutur Indra Ruswadi, seusai membagikan hadiah uang dan piagam penghargaan kepada para juara tenis meja perseorangan di Desa Panyindangan Wetan. (Satim)***

1 Juni 2010

Abdullah Thohir Paling Santer Diisukan Mendampingi Anna Sophana

H. Abdullah Thohir dalam gambar yang
terpasang di depan rumahnya, Rabu (19/5) sore. (Foto-foto : Satim) ***

Abdullah Thohir Paling Santer Diisukan

Mendampingi Anna Sophana

INDRAMAYU – Hingga akhir Mei 2010, beberapa pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat belum mengetahui figur siapa yang memperoleh surat rekomendasi dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Demokrat di Jakarta untuk pencalonan Wakil Bupati dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Indramayu yang dijadualkan berlangsung pada 18 Agustus 2010.

Padahal, sejumlah nama-nama bakal calon Bupati dan Wakil Bupati sudah diajukan ke Ketua Umum DPP Partai Demokrat. “Beberapa nama sudah diajukan ke DPP Partai Demokrat di Jakarta. Namun, sampai saat ini saya juga belum tahu siapa yang memperoleh surat rekomendasi dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat,” kata Ir. Harris Solihin, Pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Indramayu yang juga anggota DPRD Kabupaten Indramayu di kediamannya, Sabtu (29/5) sore.

Rencananya, Harris Solihin bersama beberapa pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Indramayu akan ke Jakarta pada Senin (30/5) siang. Pasalnya, ia ingin mengetahui kabar tentang siapa yang direkomendasikan pihak DPP Partai Demokrat untuk pencalonan dalam Pilkada di Kabupaten Indramayu dengan sisa waktu yang hanya puluhan hari menjelang hari H pemungutan suara.

Harris tak menampik kalau salah satu kadernya yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, H. Abdullah Thohir akan digandeng Partai Golkar untuk mendampingi Hj. Anna Sophana yang sudah lebih dahulu direkomendasikan partai berlambang pohon beringin itu, maju sebagai calon Bupati Indramayu dalam Pilkada 2010 ini.

Bahkan dalam jumpa pers di pendopo Bupati Indramayu, Selasa (18/5) malam, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat dan juga Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) mengatakan, H. Abdullah Thohir dari Partai Demokrat diusulkan untuk menjadi bakal calon Wakil Bupati berpasangan dengan istrinya, Hj. Anna Sophana. Selain Abdullah Thohir, juga ada H. Supendi, Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu, dan Syamsul Bachri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Indramayu.

Tentang figur bakal calon Wakil Bupati dari Partai Demokrat seperti yang dikatakan Yance, yang dibutuhkan Partai Golkar Kabupaten Indramayu adalah Surat Rekomendasi dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat. “Saya juga belum mengetahui, siapa yang direkomendasikan pihak DPP Partai Demokrat,” ujar Yance dalam jumpa pers dengan puluhan wartawan media cetak dan elektronik itu.

Nama Abdullah Thohir tampaknya paling santer diisukan bakal mendampingi Hj. Anna Sophana dari Partai Golkar. Bahkan dalam resesnya selaku wakil rakyat, Abdullah Thohir menyosialisasikan berbagai keberhasilan pembangunan di bawah kepemimpinan Bupati Indramayu, Yance kepada masyarakat di daerah pemilihannya, Kecamatan Karangampel, belum lama ini.

Pada Rabu (19/5) sore, Abdullah Thohir menggelar acara syukuran dan sekaligus orasi politik tentang sejumlah keberhasilan dan kemajuan pembangunan di bawah kepemimpinan Yance. Ia juga mengajak kepada ratusan massa yang hadir untuk ikut mendoakan agar Hj. Anna Sophana terpilih sebagai Bupati Indramayu. “Dan kami mendoakan, agar Bapak Abdullah Thohir sebagai Wakil Bupatinya supaya masyarakat Indramayu lebih maju dan sejahtera,” kata massa yang hadir pada saat itu.

Dia akhir orasi politik dan penampungan aspirasi masyarakat Kecamatan Karangampel tersebut, Abdullah Thohir mengajak masyarakat di Kabupaten Indramayu, untuk bersikap waspada dan hati-hati menjelang Pilkada yang suhu politiknya cenderung memanas. “Masyarakat jangan mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab, yang diduga sengaja mengadu- domba masyarakat Indramayu. Kita jangan mau dijadikan domba-domba yang mudah diadu oleh mereka. Mari kita bersatu demi Indramayu yang lebih maju, mandiri, religius, dan sejahtera !,” tandas mantan Ketua Panitia Pemilihan Daerah (PPD) II Kabupaten Indramayu pada Pemilu 1999 silam itu. (Satim)*** Foto-foto : Satim

27 Mei 2010

Kejagung Tahan Pejabat Indramayu

Kejagung Tahan Pejabat Indramayu


Thursday, 27 May 2010

JAKARTA(SI) – Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menahan mantan Sekretaris Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Pemkab Indramayu Daddy Haryadi. Daddy ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan mark up pengadaan tanah.

“Kami langsung menahannya pada Selasa (25/5) malam,” ujar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejagung Marwan Effendi kepada wartawan di Kejagung,Jakarta,kemarin.Daddy Haryadi ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kejagung. Dari hasil penyelidikan, kata Marwan,Daddy diduga kuat terlibat dalam mark up pembebasan lahan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) I di Indramayu.Praktik ini ditaksir merugikan keuangan negara sebesar Rp42 miliar. “Kami menemukan unsur tindak pidana korupsi.Tersangka dijerat Pasal 55 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan ancaman paling lama20tahunpenjara,” sebut Marwan.

Praktik mark up ini, lanjut dia, terjadi pada 2006 silam ketika Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten Indramayu melakukan pembebasan lahan untuk pembangunan megaproyek PLTU di Desa Sumur Adem, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu,seluas 82 hektare.Harga lahan untuk pembangkit penyuplai listrik se-Jawa Madura ini yang seharusnya hanya bernilai antara Rp17.000 hingga Rp23.000 per meter persegi berdasarkan nilai jual objek pajak (NJOP) pada tahun berjalan 2006 dilambungkan menjadi Rp42.000 per meter persegi.

Selain penggelembungan harga, diduga keras terjadi pula penjualan tanah dan bangunan aset desa senilai miliaran rupiah,lahan sawah teknis dan non teknis, juga tanah Perum Otorita Jatiluhur (POJ). Sebelumnya,Kejaksaan Negeri Indramayu menemukan beberapa kejanggalan dalam proses pembebasan lahan PLTU Sumur Adem. Pemkab Indramayu dan PLN Ranting Haurgeulis tidak melibatkan kantor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebagai penaksir harga jual tanah berdasarkan NJOP. Kejari kemudian melakukan penelusuran dengan memeriksa sejumlah kepala desa dan camat.Di antaranya Camat Sukra,Mulya Sejati.

Setelah menjalani pemeriksaan oleh Kejari Indramayu, pada awal April lalu,Mulya mulai menjalani pemeriksaan di Kejagung. Dia diduga menyetujui pemindahtanganan atau penerbitan NJOP sebidang tanah yang akan dibebaskan negara untuk proyek PLTU padahal izin prinsipnya telah keluar.

Dugaan Korupsi Disdik

Kemarin,Kejari Indramayu melimpahkan berkas perkara dugaan korupsi program pendanaan kompetitif indeks pembangunan manusia (PPK IPM) tahun 2006 ke Pengadilan Negeri Kabupaten Indramayu. Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Indramayu Mafhudiyanto mengatakan, ada jaksa dari Kejati Jabar yang disiapkan untuk mendampingi jaksa Kejari dalam persidangan nanti.Pada awal Mei 2010,Kejari Indramayu telah menahan Narjito, tersangka kasus ini.Dia adalah pimpinan proyek program PPK IPM.

Narjito kini mendekam di Lembaga Permasyarakatan Indramayu. Dalam PPK IPM 2006, dana sebesar Rp2,4 miliar dialokasikan untuk kegiatan kewirausahaan 1.920 kelompok belajar keaksaraan fungsional (KF). Setiap kelompok mendapatkan dana sebesar Rp1 juta.Namun, dalam pelaksanaannya,hak setiap kelompok dipotong Rp150.000 oleh pelaksana.Akibat praktik ini, negara dirugikan Rp288 juta. (sucipto/tomi indra) ***

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/

Warga Desa Panyindangan Wetan Sibuk Bersih-Bersih

BANJIR BANGKIR – Suasana banjir di Blok Bangkir Indramayu akibat amukan Sungai Cimanuk, Jumat (21/5) pagi. (Foto-foto : Satim)

PASCA BANJIR

Warga Desa Panyindangan Wetan Sibuk Bersih-Bersih

INDRAMAYU – Hingga Kamis (27/5) siang, sejumlah warga korban banjir Sungai Cimanuk di Desa Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat terlihat pada sibuk bersih-bersih, terutama membersihkan lantai, tembok, dan perabotan rumah tangga yang sempat terendan selama sepekan akibat “amukan” air Sungai Cimanuk dari Blok Pulo Desa Plumbon, Kecamatan Indramayu yang terjadi pada Jumat (21/5) siang hingga Sabtu (22/5) malam.

“Sejumlah warga dan saudara kami di sini tengah sibuk bersih-bersih rumah dan pekarangan yang tergenang air dan lumpur Sungai Cimanuk,” kata Warsan (61), tokoh masyarakat Desa Panyindangan Wetan, Kamis (27/5) siang.

Dengan sapu lidi dan alat pel seadanya, warga setempat terlihat berjibaku membersihkan rumah dan pekarangannya masing-masing. Kuwu Panyindangan Wetan, Suwarto bersama beberapa perangkat desanya juga pada sibuk membersihkan kantornya yang sebelumnya terendam air kiriman dari Blok Pulo.

Hingga kini belum diperoleh keterangan pasti tentang jumlah kerugian materi yang diderita penduduk Desa Panyindangan Wetan, Rambatan Wetan Kecamatan Sindang, Rambatan Kulon Kecamatan Lohbener, dan warga Blok Pulo Desa Plumbon Kecamatan Indramayu. Namun sejumlah warga setempat mengaku, mereka dibuat pada sengsara akibat ulah oknum-oknum warga Blok Pulo yang menggempuri tanggul dan bantaran kali Cimanuk, sehingga rata nyaris tak bertanggul lagi, dan itulah yang menyebabkan air Sungai Cimanuk muntah serta menenggelamkan ribuan rumah yang ada di beberapa desa tersebut.

Selain permukiman warga, banjir “bandang” kiriman dari Sungai Cimanuk Majalengka dan Garut itu yang mengamuk di Blok Pulo dan tanggul Blok Bangkir Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu itu pun melumat ratusan hektar sawah yang berada di wilayah Kecamatan Sindang dan Lohbener.

Banjir yang melumat wilayah Kecamatan Sindang itu memicu kemarahan Warga Desa Panyindangan Wetan yang menuding, bahwa oknum-oknum warga Blok Pulo harus bertanggung jawab atas kerugian dan kepanikan yang dialami warga Desa Panyindangan Wetan. “Jika bukan karena guyuran air yang tingginya di atas lutut, hari Jumat (21/5) siang pun, puluhan warga Desa Panyindangan Wetan sudah bersiap-siap melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut pertanggung jawaban orang-orang yang diduga melakukan pengerukan tanggul dan bantaran kali Cimanuk, sehingga di Blok Pulo itu tidak ada tanggulnya,” kata Warsan.

Kini, warga Desa Panyindangan Wetan meminta kepada aparat pemerintah untuk melakukan tindakan hukum yang tegas kepada sejumlah oknum warga Blok Pulo Desa Plumbon yang membuat rusaknya tanggul dan bantaran kali untuk kepentingan pribadinya. Warga menduga, kemungkinan ada oknum-oknum lain yang ikut terlibat dalam aksi pengrusakan bantaran dan tanggul kali Cimanuk di Blok Pulo tersebut.

Dari hasil pemantuan hingga Kamis (27/5) siang, dampak banjir yang menggenangi Desa Panyindangan Wetan menyebabkan kerusakan yang amat parah sejumlah ruas jalan desa dan lingkungan sekitarnya. Sejumlah saluran air pun pada mampet akibat lumpur. Sedangkan sejumlah tanaman padi yang sudah menghijau di desa itu, kini terlihat agak menguning karena terendam air. “Para petani pun ikut merugi dan menderita akibat banjir Cimanuk yang muntah dari Blok Pulo Desa Plumbon,” ujar Carmadi (51), warga Desa Panyindangan Wetan.

Sejauh ini, belum ada sikap pemerintah yang siap mengganti rugi warga setempat yang menjadi korban banjir. Namun Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) sudah meninjau desa-desa korban banjir pada Sabtu (22/5) siang, sambil membagi-bagikan sembako kepada para korban banjir.

Sementara kerusakan jalan, saat ini solusinya masih dalam pembahasan pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu. “Kalau soal tindakan perbaikan dan pemeliharaan jalan pasca banjir, semua tergantung kesiapan dana pemerintah. Yang jelas, untuk menggelontorkan duit pemerintah bukan seperti membalikkan telapak tangan dengan mudah. Semua harus ditempuh dengan mekanisme aturan kepemerintahan dan memakan waktu,” tutur Dikdik Sudikna, Kabid Jalan pada Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu. (Satim)*** Foto-foto : Satim

21 Mei 2010

Ribuan Anggota Ormas Pemuda Gelar Apel Akbar Demi Suksesnya Pilkada dan Kebangkitan Indramayu

Apel akbar jajaran Ormas Kota Mangga dalam Aksi Kebulatan Tekad Demi Menjaga Kondusifitas Indramayu Menjelang Pilkada 2010. Tampak dalam gambar, Perwakilan Ormas tengah menyampaikan kebulatan tekad demi keamanan Pilkada 2010 demi persatuan dan kesatuan masyarakat Indramayu dalam menghadapi pesta demokrasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Bumi Wiralodra yang disampaikan kepada Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance), Kamis (20/5) pagi di Alun-Alun Kabupaten Indramayu. (Foto-Foto : Satim)***

Yance : “Bersatu dan Bangkitlah Indramayu”

Ribuan Anggota Ormas Pemuda Gelar Apel Akbar Demi Suksesnya Pilkada dan Kebangkitan Indramayu

INDRAMAYU – Hari Kebangkitan Nasional, Kamis (20/5) pagi, sebuah pemandangan lain terjadi di Alun-Alun Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Ribuan anggota organisasi kemasyarakatan (Ormas) menggelar aksi kebersamaan dan kebulatan tekad untuk kemajuan pembangunan dan kondusifitas daerah dalam menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Indramayu.

Ormas Pemuda Pancasila (PP), Relawan Indramayu Remaja, dan sejumlah elemen Ormas lainnya berbaris di Alun-Alun Kota Mangga, mereka menggelar aksi akbar dalam mendukung kelanjutan pembangunan demi kamajuan dan kemakmuran masyarakat di Indramayu.

Aksi kebulatan tekad “Demi Indramayu” itu disampaikan perwakilan sejumlah pengurus Ormas kepada Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) yang sekaligus sebagai Pembina Ormas di wilayah Bumi Wiralodra tersebut.

H. Daniel Mutaqien Syafiuddin, Ketua DPC Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Indramayu dan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Indramayu mendampingi Yance, yang juga ayah kandungnya sebelum orang nomor satu di tatar Pantura itu menyampaikan pesan kepada para pemuda dan masyarakat Indramayu.

Bupati Yance mengatakan, masyarakat Indramayu agar mampu menjaga kondusifitas daerahnya dalam menghadapi Pilkada tahun 2010 ini. “Jangan sampai terpancing isu-isu yang tak bertanggung jawab yang sengaja akan mengadu domba, memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat Indramayu, hanya karena demi ambisi dan kepentingan pribadi maupun golongannya,” kata Yance yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu.

Jajaran Ormas Pemuda menyatakan siap dan “pasang badan” seandainya ada pihak-pihak yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat Indramayu. Dalam momentum semangat Kebangkitan Nasional 20 Mei, kalangan Ormas yang menggelar apel akbar tersebut menyatakan siap bangkit demi kemajuan Indramayu. (Satim)*** Foto-Foto : Satim


19 Mei 2010

Calon Wakil Bupati Indramayu dari Partai Golkar Tergantung Hasil Survei

Calon Wakil Bupati Indramayu dari Partai Golkar

Tergantung Hasil Survei

INDRAMAYU – Hingga Selasa (18/5) malam, belum diketahui pasti Calon Wakil Bupati Indramayu dari Partai Golkar. Keputusan soal siapa yang layak untuk dipasang sebagai calon Wakil Bupati Indramayu yang mendampingi Calon Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophana dari partai berlambang pohon beringin itu, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin mengatakan, pihaknya belum mengetahuinya.

Siapa pun figur yang layak dipasangkan dengan Anna Sophana, DPD Partai Golkar Kabupaten Indramayu tetap merujuk pada figur yang terpopuler hasil lembaga survei independen yang telah ditunjuk pihak DPP Partai Golkar. Yance (begitu sapaan akrab Irianto MS Syafiuddin) sendiri, meski saat ini masih menjabat sebagai Bupati Indramayu tidak bisa mengintervensi keputusan yang diambil pihak DPP Partai Golkar pimpinan Aburizal Bakrie.

Namun Yance mengakui, sejumlah nama yang dipasangkan dengan Anna Sophana sudah diajukan pihak DPD Partai Golkar Kabupaten Indramayu kepada DPP Partai Golkar di Jakarta. Dijelaskan, beberapa nama bakal calon Wakil Bupati Indramayu itu diantaranya, Abdullah Thohir dari Partai Demokrat, Syamsul Bachri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan beberapa nama lainnya.

“Hingga malam ini, Selasa (18/5) malam, saya sendiri belum mengetahui figur siapakah yang layak untuk mendampingi istri saya, Anna Sophana. Saya pun masih menunggu keputusan pihak DPP Partai Golkar di Jakarta,” kata Yance dalam acara jumpa pers yang dihadiri puluhan wartawan dari media massa cetak dan elektronik di Pendopo Bupati Indramayu, Selasa (18/5) malam.

Menurut Yance, acara jumpa pers tersebut, merupakan ajang silaturahmi Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) dengan insan pers di Kota Mangga Indramayu. Ditegaskan, ia secara pribadi maupun atas nama jabatannya sebagai Bupati Indramayu meminta maaf apabila memiliki kesalahan dan kekhilafan, baik disengaja maupun tidak disengaja selama sepuluh tahun memimpin Bumi Wiralodra.

“Maklum sebagai manusia biasa, mungkin ada kata-kata atau ucapan yang dirasa menyakitkan teman-teman pers, sekali lagi saya meminta maaf dan mohon dimaafkan. Karena memang, watak saya keras dan lantang, dan itu harus dimaklumi karena watak saya memang begitu dari dulu. Jadi harap maklum mungkin gaya saya seperti itu. Ha...haa...,” ungkap Yance dalam jumpa pers yang diwarnai canda tawa.

Maklum saja, dalam acara jumpa pers itu, beberapa wartawan yang dulu seangkatan dengan Yance turut hadir, seperti Imam Santoso, Resman Sihalaho, Yusuf Hussein, dan Arsyad. Sedangkan Taryani dari Harian Pos Kota yang sempat ditanyakan Yance, Selasa (18/5) malam itu, tidak sempat hadir, konon, karena ada tugas jurnalistik di Cirebon.

Dalam mengakhiri acara jumpa pers itu, Yance berpesan agar insan pers menciptakan suasana yang kondusif demi kemajuan Indramayu. “Pertemuan ini, saya tidak bermaksud mengintervensi kalangan pers dalam membuat berita menjelang Pemilihan Kepala Daerah di Indramayu ini. Hak wartawan dalam membuat berita dan memberitakan tentang realita di lapangan, dan saya percaya para wartawan lebih intelek dan profesional dalam menjalankan tugasnya,” tutur mantan wartawan itu.

Acara jumpa pers yang digelar Selasa (18/5) malam itu, diikuti puluhan wartawan yang berhimpun di beberapa organisasi kewartawanan yang ada di Kabupaten Indramayu, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Indramayu, Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Cabang Indramayu, dan Aktivis Jurnalistik Independen Indonesia (AJII). (Satim)***

 

My Blog List

JASA PENGIRIMAN UANG

Site Info

Followers/Pengikut

PENDOPO INDRAMAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template