CARI BERKAH KLIK DI SINI

17 April 2011

Polisi Lakukan Tes DNA Pelaku dan Keluarga

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Polisi Lakukan Tes DNA

Pelaku dan Keluarga

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam merilis foto wajah pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, saat jumpa pers di Rumah Sakit Polri Sukanto, Jakarta, Sabtu (16/4). (KOMPAS/RIZA FATHONI)***

JAKARTA, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Kepolisian Negara RI masih berupaya memastikan identitas pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon pada Jumat (15/4). Tes deoxyribonucleic acid (DNA) dilakukan untuk mencocokkan data genetika dan golongan darah pelaku dengan pihak yang diduga orangtua dan keluarga pelaku. Polisi telah mencurigai pelaku aksi bom adalah warga Cirebon berinisial MS.

Hingga Sabtu (16/4) sore, dari 28 korban luka, 13 korban masih dirawat di rumah sakit. Sisanya diperbolehkan pulang menjalani rawat jalan.

”Kami memerlukan waktu 1 x 24 jam untuk memastikan meskipun sudah ada 80 persen keyakinan. Apabila cocok, orangtuanya akan diizinkan melihat jenazah pelaku,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Jakarta kemarin.

Dalam identifikasi awal, menurut Anton, pelaku diketahui bergolongan darah O. Pengecekan sampel darah dan DNA diperkirakan selesai pada Minggu (17/4) pagi.

Sementara itu, Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigadir Jenderal Musaddeq Ishak mengungkapkan, polisi masih mencocokkan sidik jari dan data gigi pelaku dengan basis data yang dimiliki.

Pelaku yang berjenis kelamin lelaki ini diperkirakan berusia 25-35 tahun, dengan tinggi badan 181 cm, berat badan 70 kilogram, ukuran sepatu 43 (10 inci), dan berkulit kuning langsat. Selain berasal dari ras Mongoloid, pelaku memiliki tanda seperti bekas luka yang sudah sembuh di dahi kiri, gigi seri atas yang pernah patah, bekas luka akibat jamur di kuku ibu jari tangan kiri, dan tanda lahir di paha kanan.

Pelaku, lanjut Anton, mengenakan celana lima lapis—2 celana pendek dan 3 celana panjang—ketika beraksi. Ini menyeimbangkan bom yang dilekatkan semacam tas ke dada dan perut.

Di tubuh pelaku tidak ditemukan identitas apa pun, kata Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Mathius Salempang, kecuali kertas tanda pembayaran makan bertanggal hari Jumat itu. Mathius menolak menyebutkan lokasi tempat tersebut.

Pukul 12.17 menjelang shalat berjemaah, setelah khatib turun dari mimbar, pelaku menerobos ke depan, ke barisan nomor dua tengah, dan meledakkan diri. Korban luka pun berjatuhan di sekitar pelaku.

Menurut Anton, korban luka ringan mencapai 24 orang, dengan 8 di antaranya menjalani rawat jalan. Korban luka berat 6 orang (bukan 28 orang seperti diberitakan kemarin). Korban meninggal hanya 1 orang, yakni sang pelaku. Seorang di antara para korban luka adalah warga sipil, yakni Ustaz Abas.

Terkait bom yang digunakan, Mathius mengatakan, bom masih dicoba dirakit supaya diketahui karakternya. Dari olah tempat kejadian perkara, bahan yang digunakan paku, mur, dan baterai.

Tentang bahan peledak yang digunakan, Mathius menyatakan belum dapat memastikan jenisnya. Juga belum dapat dipastikan pelaku bom bunuh diri dari kelompok teroris mana kendati dari cara kerja, modus, dan bom yang digunakan bisa diperkirakan. ”Dugaan polisi, pelaku adalah rekrutan baru sebab terkesan belum ahli dalam merakit bom. Pelaku mendapat doktrin bahwa pemerintah dan polisi sebagai tentara setan. Apalagi, polisi memang banyak menangkap teroris,” ujar Anton, sambil menambahkan, jajaran kepolisian diminta meningkatkan kewaspadaan.

Dicurigai

Dari Cirebon, polisi mencurigai bahwa pelaku peledakan bom yang tewas dalam insiden bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Mapolresta Cirebon, Jumat (15/4) pukul 12.20, adalah warga Cirebon.

Kepala Bagian Perencanaan Polres Kota Cirebon Komisaris Sutisna kemarin menjelaskan kepada pers, warga yang dicurigai dan tewas di lokasi kejadian itu berinisial MS, warga Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, yang diketahui hilang sejak ledakan bom terjadi Jumat, siang. Untuk memastikan keterlibatan MS, polisi telah meminta keterangan kepada tiga anggota keluarga MS, yaitu kedua orangtuanya, Gofur (60) ayahnya dan ibunya, Ratu Srimulat (57), serta adik kandung MS bernama Toni (20).

Menurut Sutisna, keterlibatan MS masih belum bisa dipastikan karena ada berbagai tahapan yang harus dilalui, termasuk rangkaian tes DNA pada orangtua dan akan dicocokkan dengan DNA korban tewas tersebut. Setidaknya perlu waktu 3-4 hari.

Sebaliknya, keluarga MS juga belum memberikan kepastian apakah anaknya, MS, adalah benar pelaku bom bunuh diri itu.

Elang Rasid (62), paman MS yang ditemui di Cirebon, mengatakan, keponakannya memang tidak ada lagi di rumah saat ini. Polisi juga telah membawa kedua orangtua dan adik MS ke Jakarta pada Jumat malam, sekitar pukul 22.00. Sebelumnya mereka diperiksa di Hotel Prima di Cirebon.

”Saat polisi menunjukkan foto korban bom bunuh diri yang juga diduga sebagai pelaku, Ratu Srimulat langsung menangis. Mungkin wajah dalam foto itu mirip dengan anaknya,” kata Rasid, Sabtu (16/4). Ratu Srimulat adalah adik kandung Rasid.

Kurang komunikasi

Rasid menggambarkan bahwa keluarga Gofur-Ratu Srimulat memang kurang berkomunikasi dengan keluarganya.

Rasid menjelaskan, baru pada Jumat malam, setelah peristiwa bom bunuh diri terjadi, ia mengenal istri MS yang tinggal di Majalengka. ”Itu pertama kali saya mengetahui istrinya. Saat menikah, dia (MS) pun tidak bercerita atau mengundang saya,” ujar Rasid.

Menurut Rasid, keponakannya itu jarang ditemuinya sejak masih kanak-kanak. ”Saya terakhir kali bertemu dia Lebaran tahun lalu. Bukan hanya dengan MS, saya juga jarang berkomunikasi dengan kedua orangtua dan saudara MS yang lain,” kata Rasid.

Rasid juga tidak paham aktivitas keseharian MS. Selama bertahun-tahun keduanya tidak bertemu.

MS yang diperkirakan berusia 30 tahun itu, menurut Rasid, tinggal bersama istrinya di Majalengka. Namun, Rasid mengaku tidak tahu lokasi rumah mereka.

Istri MS diketahui sedang hamil sembilan bulan. Awalnya, istri MS itu akan dibawa serta ke Jakarta untuk dimintai keterangan. ”Namun, tidak jadi. Mungkin pertimbangannya karena sedang hamil tua,” ujar Rasid.

Perawatan

Hingga Sabtu sore, 11 korban ledakan bom masih dirawat di RS Pelabuhan serta 2 korban di RS Pertamina Cirebon, yakni Kepala Polres Kota Cirebon Ajun Komisaris Besar Herukoco dan Kepala Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon Komisaris Suhadi.

Menurut Kepala Humas RS Pelabuhan Yeni Rahmawati, Sabtu siang, tiga korban dioperasi ulang di RS Pelabuhan karena belum semua material bom yang masuk ke dalam tubuh korban bisa diambil.

Staf Humas dan Pemasaran RSU Pertamina Cirebon, Muhammad Nur, mengungkapkan, dokter memeriksa ulang Kepala Polres Kota Cirebon Herukoco. Sampai dengan pukul 02.00, dokter bisa mengeluarkan 31 serpihan logam, paku, dan mur dari tubuh Herukoco. Logam masuk di punggung dan lengan korban.

Selain Herukoco, kini RSU Pertamina Cirebon juga merawat Kepala Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon Komisaris Suhadi. Suhadi sebelumnya dirawat di RS Pelabuhan Cirebon. Karena memerlukan penanganan lebih intensif, ia dipindahkan ke RSU Pertamina Cirebon. Dokter menemukan 14 lempengan logam di tubuh Suhadi, tersebar di lengan dan punggung.

Teror bom di Manado

Sabtu (16/4) pagi aksi teror bom juga terjadi di Kantor Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Penduduk sekitar panik setelah ditemukan bungkusan tas plastik warna hitam berisi rangkaian elektronik dan kabel hitam serta kardus menyerupai bom di depan pintu masuk kantor sinode.

Bungkusan plastik ditemukan Benny Tular, petugas keamanan Kantor Sinode GMIM, pukul 05.30. Benny yang curiga bungkusan itu berbahaya langsung melapor kepada Ketua Sinode GMIM Dr Pdt Piet Tampi MTh.

Tampi kemudian lapor ke Polres Kota Tomohon. Dia curiga bungkusan itu bom setelah melihat rangkaian kabel menjulur keluar kardus.

Kapolres Kota Tomohon Ajun Komisaris Besar Suyanto minta bantuan tim penjinak bom dari Kepolisian Daerah Sulawesi Utara dan pukul 09.30 benda itu diledakkan. ”Saat diledakkan tak terdapat bahan peledak seperti serbuk mesiu,” kata Suyanto.

Peledakan dilakukan di lokasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa benda itu bukan bom.

Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Utara Ajun Komisaris Besar Benny Bela menambahkan, di dalam bungkusan plastik hitam terdapat juga pengatur waktu (timer) warna biru dan papan kecil. ”Tapi, ini bom main-mainan saja,” kata dia.

Pdt Piet Tampi menilai teror bom merupakan aksi provokasi. Ia berharap masyarakat tidak terpancing. (INA/REK/WIE/ELD/ZAL)***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

KOMENTAR

Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Lutfi Situmorang

Minggu, 17 April 2011 | 15:25 WIB

org tua capek nyekolahin..cita2nya cuma bunuh diri

Balas tanggapan


  • djoko kemal

Minggu, 17 April 2011 | 14:34 WIB

politik tingkat tinggi nih...susah diprediksi siapa dalangnya..

Balas tanggapan


  • Maman Espede

Minggu, 17 April 2011 | 11:21 WIB

bom bunuh diri? wow, takuuut

Balas tanggapan

Bangkit dari Trauma dan Luka Bom Bunuh Diri

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Bangkit dari Trauma

dan Luka Bom Bunuh Diri

Petugas medis pada RS Pelabuhan Cirebon, Sabtu (16/4), melepas infus di tangan Brigadir Dua Anton Helmi Kuswendi (kanan), salah satu korban luka ledakan bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jumat (15/4) siang. (Kompas/Siwi Nurbiajanti)***

Oleh Rini Kustiasih dan Siwi Nurbiajanti

Masih belum hilang dari ingatan Brigadir Dua Anton Helmi Kuswendi (23), warga Jalan Kopo, Bandung, peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jumat (15/4) siang.

Saat itu, ia dan puluhan polisi lainnya sedang khusyuk beribadah shalat Jumat di masjid tersebut.

Tidak pernah tebersit pula dalam pikiran Anton bahwa bom akan meledak di tengah kekhusyukan orang-orang beribadah. Ia juga tidak pernah menyimpan rasa curiga bahwa akan ada orang yang tega berbuat jahat kepada mereka.

”Tidak curiga sama sekali,” ujar pria yang sudah tiga tahun bekerja sebagai polisi tersebut.

Saat kejadian, Anton mengaku berada pada saf atau baris ketiga pojok kanan. Jumlah orang yang mengikuti ibadah shalat Jumat diperkirakan sekitar 30 orang.

Tiba-tiba bom meledak dari baris kedua dan serpihannya mengenai para jemaah shalat Jumat di Masjid Adz-Dzikro, termasuk dirinya.

Anton yang bekerja sebagai staf keuangan pada Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon mengalami luka di bagian perut, lengan, dan kepala akibat terkena paku, mur, serta serpihan lampu.

Bahkan, serpihan daging orang yang diduga sebagai pelaku juga menempel di pipi kirinya.

Saat ditemui di RS Pelabuhan, Sabtu (16/4) siang, Anton sedang bersiap untuk pulang ke rumah karena kondisi kesehatannya sudah membaik. Ia ditemani ibunya, Elis (48), dan istrinya, Eva (26).

Sebagai salah satu korban dari peristiwa bom bunuh diri, ia mengaku membenci tindakan yang dilakukan pelaku bom bunuh diri. Meski demikian, ia tidak ingin larut dalam kebencian tersebut.

Peristiwa itu akan ia jadikan pelajaran berharga dalam hidup. Ia mengaku akan semakin waspada, semakin teliti, dan tidak mudah percaya terhadap orang yang baru dikenal. Yang pasti, ia juga berharap agar peristiwa serupa tidak terulang.

Ajun Inspektur Satu Yon Patriono (50) juga mengaku trauma dengan ledakan bom bunuh diri yang terjadi di masjid Polres Kota Cirebon.

Nyeri di lengan kanan dan kiri memang masih dia rasakan. Namun, nyeri paling parah justru dia rasakan di dalam sanubarinya.

”Bom itu biadab dan tidak berperi kemanusiaan. Saat semua orang bersiap untuk beribadah kepada Tuhan, dia justru mengganggu dengan meledakkan bom bunuh diri dan melukai banyak orang,” tuturnya.

Akibat peristiwa tersebut, Yon belum mau beribadah di masjid Polres. Ia mengaku masih shock dan belum bisa melupakan peristiwa itu. Jika sudah sehat, ia memilih untuk shalat di tempat lain. Bayang- bayang ledakan bom itu masih menghantui dirinya.

Bagi Ahyadi (39), pesuruh di bagian identifikasi sidik jari di Polres Kota Cirebon, peristiwa bom itu menjadi peringatan bagi dirinya agar tetap waspada di setiap tempat. Bahkan di lokasi peribadatan sekalipun, niat jahat orang selalu ada.

Wahiddin, korban lain, juga tidak pernah menduga ada orang yang tega berbuat jahat di tengah kegiatan ibadah.

Pria yang bekerja sebagai perawat di Polres Kota Cirebon tersebut juga mengalami luka gores di bagian perut dan lengan kiri. Namun, ia hanya menjalani rawat jalan. ”Telinga ini masih mengiang-ngiang,” tuturnya saat ditemui di RS Pelabuhan, Jumat malam.

Bom bunuh diri tidak hanya melukai orang-orang yang menjadi korban dalam peristiwa itu. Kejadian tersebut juga telah menghina dan melecehkan simbol agama dan simbol negara.

”Bom bunuh diri adalah kejahatan kemanusiaan yang sangat keji, tidak bermoral, dan tidak bertanggung jawab,” tutur Marzuki Wahid, perwakilan dari Masyarakat Multikultural Cirebon.

Meski demikian, ia berharap institusi kepolisian tetap memiliki keteguhan hati untuk tetap bekerja profesional dalam menegakkan hukum, keamanan, dan ketertiban di masyarakat. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih giat memerangi terorisme dan anarkisme sebagai musuh kemanusiaan.

Salah satu upaya memerangi terorisme, menurut dia, dengan memerangi kemiskian. Hal itu karena kemiskinan dianggap sebagai salah satu akar terorisme.

Selain itu, akar-akar terorisme lain yang juga harus diperangi adalah ketidakadilan pembangunan, ketidakadilan mendapatkan akses dalam banyak hal, dan korupsi. ”Kalau mau serius, memberantas terorisme sekaligus juga dengan mengurangi kemiskinan, menyelesaikan ketidakadilan, dan menyelesaikan korupsi,” tuturnya.***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

KOMENTAR

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Gregorious Aris Buntarman

Minggu, 17 April 2011 | 05:44 WIB

Samopai kiamat kemiskinan tetap ada. Jadi kemiskinan bukan akar terorisme. Di Jaman Bung Karno nggak ada terorisme kayak gitu.

Balas tanggapan


  • linggis keramat

Minggu, 17 April 2011 | 14:13 WIB

kemiskinan yang dialami bngsa indonesia melampaui batas akibat kebobrokan para pejabat negara,negara paling maju dan pling tegas hukumpun ada warganya yg miskin,tpi ga kya di indonesia tercinta waaaaaaaa

Balas tanggapan

LEDAKAN BOM : Polri Cocokkan Sampel Darah Pelaku

Sabtu,

16 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

LEDAKAN BOM

Polri Cocokkan Sampel Darah Pelaku

Sandro Gatra | Sabtu, 16 April 2011 | 18:21 WIB

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menunjukkan foto wajah pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, Sabtu (16/4/2011) di Jakarta. (TRIBUN NEWS/FX ISMANTO)***

TERKAIT:

JAKARTA, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE — Kepolisian telah mengambil sampel darah beberapa warga dalam satu keluarga yang diduga keluarga pelaku pengeboman di dalam Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Polres Kota Cirebon, Jawa Barat, Jumat (15/4/2011).

Kalau cocok, besok kira-kira pukul 13.00 akan kami publikasikan di Mabes Polri. Anton Bachrul Alam

"Sampel darah mereka dibawa ke Jakarta semalam. Kami mau mencocokkan dengan darah jenazah," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam ketika dihubungi wartawan, Sabtu (16/4/2011).

Anton mengatakan, jika DNA jenazah dengan DNA sampel yang diambil cocok, keluarga tersebut dapat mengambil jenazah di Rumah Sakit Polri Jakarta Timur.

"Kalau cocok, besok kira-kira pukul 13.00 akan kami publikasikan di Mabes Polri," kata Anton.

Seperti diberitakan, pelaku pengeboman diduga bernama Muhammad Syarif. Dia tercatat bertempat tinggal di RT 03 RW 06 Astana Garib Utara, Pekalipan, Kota Cirebon.

Polri juga telah merilis ciri-ciri pelaku, yakni berjenis kelamin laki-laki, ras mongoloid, golongan darah O, umur antara 25 dan 35 tahun, tinggi 181 cm, berat 70 kg, kulit kuning langsat, dan nomor sepatu 43 (10 inci).***

Source : Kompas.com, Sabtu, 16 April 2011

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • daniel tomapoka

Sabtu, 16 April 2011 | 20:26 WIB

baca dari media lain : Ketua Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) yang merupakan anggota FUI mengakui bahwa yang melakukan pengeboman Muhammad Syarif. "saat melakukan aksi bersama GAPAS dia selalu ikut, tapi bukan anggota" pernyataan yang konyol kalo bukan anggota kok masih boleh ikut??? beginilah kalo ormas2 yang membawa nama-nama "agama" tapi melakukan kekerasan dibiarkan terus menerus akan bermunculan ekstrimisme di kehidupan brmasyrakat. mending ga usah bawa2 agama mending ato dibubarin sekalian. seperti menunjukkan pemerintah seperti kehilangan "taji-nya" kalo organisasi2 seperti ini dibiarkan.

16 April 2011

Bom Bunuh Diri di Masjid Mapolresta Cirebon : Polisi Bisa Identifikasi Pelaku

Sabtu,
16 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Polisi Bisa Identifikasi Pelaku

CIREBON, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Hingga Jumat (15/4) malam, polisi masih berupaya mengungkap motif aksi bom bunuh diri di dalam Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat. Namun, polisi memastikan bisa segera mengidentifikasi karena wajah orang yang tewas dan diduga pelaku peledakan utuh tidak terluka.

Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, kepada pers di Markas Polres Kota Cirebon, Jumat sore, menjelaskan, insiden ledakan bom bunuh diri terjadi sekitar pukul 12.20 saat shalat Jumat baru akan dimulai. ”Mohon kesabarannya, kami tengah menyelidiki dan menyidik. Mudah-mudahan segera terungkap semuanya,” kata Timur.

Kepala Bagian Perencanaan Polres Kota Cirebon Komisaris Sutisna, saat ditemui di RS Umum Pertamina Cirebon, mengatakan, ”Wajah orang itu bisa diidentifikasi karena wajahnya tidak mengalami luka. Orang itu luka di bagian perut, hampir bolong.” Hal senada dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai.

Timur menegaskan, polisi segera memperketat pengamanan di seluruh areal kepolisian.

Dr Nurjati, dokter di RS Pelabuhan Cirebon, yang merawat 28 korban ledakan, menuturkan, sebagian besar korban luka parah akibat serpihan logam, paku, dan baut. Hingga Jumat malam, jumlah korban yang menjalani rawat inap 22 orang, sedangkan enam orang menjalani rawat jalan. Korban luka termasuk Kepala Polresta Cirebon Ajun Komisaris Besar Herukoco.

Jenazah seorang pria yang diduga pelaku peledakan, menurut Timur, kemarin langsung dikirim ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta, untuk penyidikan.

Ledakan terjadi setelah khatib baru saja menyelesaikan khotbahnya. Dari baris ketiga, mendadak terdengar ledakan bom yang diduga disembunyikan di balik baju salah seorang jemaah. Akibat ledakan itu, kaca-kaca jendela masjid pecah dan sebagian atap masjid berlubang terkena letupan bom.

”Ada 28 korban luka-luka dan satu korban meninggal dunia. Polisi menduga kuat, satu-satunya korban meninggal adalah pelaku bom tersebut. Bom itu ditempatkan di badan pelaku, tetapi kami belum tahu bentuk dan jenisnya,” kata Timur.

Korban meninggal yang diduga sebagai pelaku itu diperkirakan berusia 25-30 tahun dengan tinggi 170 sentimeter. Jenazah korban yang belum bisa diidentifikasi langsung dikirim ke RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 16.23. ”Korban luka parah di bagian atas perut sebelah kanan,” ujar Timur.

Bertingkah aneh

Ajun Inspektur Satu M Sukrim yang pada saat kejadian berada satu baris dengan pelaku menuturkan, pelaku sejak awal bertingkah aneh. Ia duduk di dekat pintu sekalipun bagian tengah masjid masih kosong. ”Saat khatib ceramah (khotbah), dia tidak memerhatikan dan justru mencari sandaran dekat tiang. Tetapi, saat akan mulai shalat, dia mendadak pindah posisi menuju ke tengah,” kata Sukrim.

Sesaat setelah bom meledak, suasana langsung panik dan banyak anggota jemaah yang keluar masjid karena khawatir ada bom susulan. ”Samping kanan saya sudah banyak anggota jemaah bergelimpangan dan mengerang kesakitan. Paku-paku menempel di lengan rekan saya, Heri,” katanya, yang juga mengalami luka ringan.

Akibat ledakan itu, Sukrim mengeluhkan telinga kanannya yang terus berdengung. ”Saya agak susah mendengar.”

Pelaku datang ke masjid dari arah samping, mengenakan kopiah dan jaket warna hitam. Polisi memastikan pelaku bukan dari unsur kepolisian, melainkan warga umum yang menumpang shalat di masjid polres.

Paku menancap

Polisi menjelaskan, ledakan bom bunuh diri itu melukai sejumlah perwira Polres Kota Cirebon, termasuk Kepala Bagian Administrasi Komisaris Suhadi dan Kepala Satuan Intelijen Ajun Komisaris Singgih. Selain itu, ada korban luka Ustaz Abas dan satu anggota masyarakat lain. Herukoco mengalami luka di punggung akibat serpihan paku dan baut. Suhadi luka parah di bagian lengan kiri dan leher akibat serpihan logam dan tancapan paku. Adapun Singgih mengalami luka di leher dan kaki.

Korban saat ini dirawat di dua rumah sakit, yakni 21 orang di RS Pelabuhan Cirebon dan satu orang di RSU Pertamina Cirebon, yakni Herukoco.

Hingga pukul 19.30, dokter berupaya mengeluarkan paku yang menancap di punggung Herukoco. Direktur RSU Pertamina Cirebon Zaenal Arifin memperkirakan, ada 4 paku dan 20 mur menancap di badan Herukoco. Operasi itu sendiri berlangsung sejak pukul 15.00. Setelah konferensi pers, Kapolri menjenguk Herukoco dan korban lain.

Komisaris Sutisna menambahkan, orang yang diduga pelaku itu duduk pada baris keempat. Saat shalat hendak dimulai, ia lalu maju ke baris kedua mendekati posisi Kapolresta. Selain melukai 28 orang, ledakan membuat atap masjid bolong dan kaca-kaca berantakan.

Sehubungan dengan kejadian itu, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, kepada pers di Jakarta, mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pemerintah mengecam keras perbuatan yang tidak berperikemanusiaan ini. ”Seluruh masyarakat Indonesia juga menyesalkan dan mengutuk perbuatan ini,” kata Djoko.

Tokoh ulama Cirebon, KH Maman, mengatakan, bom bunuh diri itu merupakan tindakan terencana. Pasti ada auktor intelektualis di balik aksi itu. Presiden harus mengungkap pelaku dan dalang di balik peristiwa ini.

Kepala BNPT Ansyaad Mbai menilai, dari rekam jejaknya, kelompok aksi bunuh diri itu diduga adalah kelompok yang sebelumnya pernah beraksi. ”Aparat keamanan akan lebih mudah mengusut aksi peledakan itu karena jasad korban tewas dan diduga pelaku masih utuh,” kata Ansyaad.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj mengecam keras aksi peledakan bom itu. Pemerintah dan aparat kepolisian diminta segera mengusut tuntas tragedi itu dan menyeret pelakunya ke pengadilan. ”Bom bunuh diri di Cirebon adalah perbuatan biadab. Semua bom dengan tujuan membunuh atau melukai manusia itu dilarang Islam, apalagi di masjid saat shalat Jumat. Itu seperti menantang,” kata Said Aqil Siradj. (REK/WIE/ELD/FER/IAM/ NWO/ONG/WHY/RAY)***

Source : Kompas, Sabtu, 16 April 2011

KOMENTAR

Ada 11 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Ryan Hidayat

Sabtu, 16 April 2011 | 13:36 WIB

yang seharusnya di bom itu para yahudi2 yg menyrg warga gaza...bukan warga inodonesia yg sesama muslim jg

Balas tanggapan


  • dheky muslikin

Sabtu, 16 April 2011 | 10:07 WIB

waduh betul-betul tercela perbuatan pengeboman didlam masjid.Polisi harus kerja keras untuk menemukan kelompok siapa dan apa motifnya.Bisa jadi ini kelompok yang sakit hati degan polisi atau kelompok yang mengambil kesempatan saat sebagian orang islam menuntut pembubaran aliran sesat.Semoga pak polisi segera menemukan pelakunya.

Balas tanggapan


  • Henky Usmany

Sabtu, 16 April 2011 | 13:02 WIB

apa mungkin pengalihan isu dari melinda kali ???

Balas tanggapan


  • Oggy C

Sabtu, 16 April 2011 | 09:56 WIB

Bukan hanya pemerintah. Negara perlu dukungan kita. Jangan demonstrasi kalo basyir dihukum.

Balas tanggapan


  • wisnu batara

Sabtu, 16 April 2011 | 09:25 WIB

Benar-benar keterlaluan dan biadab pelaku pemboman ini, sholat jum'at yang hukumnya Sangat Sangat Wajib bagi umat Muslim (terutama pria muslim) dijadikan arena uji coba mencabut nyawa, pemerintah harus dapat mengungkap masalah ini dan memberikan keterangan kepada publik tentang siapa dalang dibalik peristiwa ini.

Balas tanggapan


  • Joseph Sassung

Sabtu, 16 April 2011 | 09:23 WIB

Saya pikir pelaku bom diri ini adalah manusia-manusia Indonesia yang lagi stress melihat kondisi Indonesia yang amburadul ini. Oleh karena itu wahai . . anggota dewan terhormat anda menjadi anggota dewan oleh karena rakyat. Perhatikan rakyat yang masih susah dan menderita, brikan hak dan jatah mereka secukupnya, mereka tidak minta yang berlebih seperti anggota dewan serta jangan hanya GEDUNG MEWAH yang dipikirkan.

Balas tanggapan


  • As'ad Choirudin

Sabtu, 16 April 2011 | 09:09 WIB

intelegen,,,,,,,,,,masak terperosok ke lubang yang sama. berkali-kali pula........

Balas tanggapan


  • Henky Usmany

Sabtu, 16 April 2011 | 13:01 WIB

pak polisi..., kalau lagi kerja jangan ngomong terus di media... nanti dalangnya kabur pak!

Balas tanggapan


  • Fitriana Mulyani

Sabtu, 16 April 2011 | 08:42 WIB

astagfirulloh..... ternyata walaupun kita sudah mempunyai Pancasila sebagai dasar idealisme kehidupan berbangsa, tetap saja ada orang-orang yg tidak bertangggung jawab dan ingin menghancurkan persatuan dan kesatuan yg sudah terjalin. keberagaman budaya, adat istiadat dan agama!!! ingatlah pancasila no 3 yaitu "Persatuan dan Kesatuan Indonesia". mereka adalah musuh di dalam selimut yang berlindung terhadap ideologi sesat yg mereka anut.

Balas tanggapan


  • Leo Agung Christanto

Sabtu, 16 April 2011 | 08:18 WIB

waduh...bom lagi dah....siapa sih yg suka mainan bom....lacak donk....

Balas tanggapan


  • agus sugihanto

Sabtu, 16 April 2011 | 07:32 WIB

bom lagi...bom lagi,pemerintah terlalu lembek

Balas tanggapan

TERORISME : Pers Berperan Penting dalam Deradikalisasi

Sabtu,
16 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

TERORISME

Pers Berperan Penting

dalam Deradikalisasi

JAKARTA, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Peran pers dinilai sangat penting untuk ikut melakukan upaya deradikalisasi dan mengurangi ideologi terorisme berkembang. Pers diharapkan dapat membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat di segala lapisan untuk menyadari bahaya terorisme sehingga terorisme tidak berkembang.

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Penerangan Umum Kepolisian RI Komisaris Besar Boy Rafli dalam diskusi dan peluncuran buku berjudul Panduan Jurnalis Meliput Terorisme yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Jakarta, Kamis (14/4). Tampil sebagai pembicara adalah pengamat terorisme Andi Widjajanto, anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo, dan wartawan Tempo, Budi Setyarso.

”Kita berharap teman media dapat membangun kemampuan masyarakat untuk tidak terpengaruh indoktrinasi terorisme sehingga terorisme tidak berkembang,” kata Boy. Pemberitaan, tulisan, atau opini di media perlu diarahkan untuk menjaga pola pikir masyarakat agar tidak terpengaruh oleh doktrin terorisme.

Boy mengingatkan, kalangan kelompok radikal atau teroris juga dapat memanfaatkan media untuk melakukan propaganda. Oleh karena itu, media atau pers pun harus lebih berhati-hati dalam memberitakan terorisme.

”Pemberitaan bisa membangun solidaritas mereka dan menebar ketakutan atau teror di kalangan masyarakat,” kata Boy. Andi mengatakan, pusat kekuatan terorisme di Indonesia terletak pada ideologi, selain jejaring dan kepemimpinan. Kalau pusat kekuatan terorisme terletak pada ideologi, deradikalisasi semakin sulit. Alasannya, ideologi selalu ditanamkan dari generasi ke generasi di kalangan teroris.

Boy menambahkan, deradikalisasi memang harus dilakukan oleh semua komponen bangsa, baik pers, kepolisian, instansi atau kementerian terkait, maupun lapisan masyarakat. Perbaikan di bidang ekonomi juga menjadi penting untuk mendukung program deradikalisasi kelompok radikal atau teroris.

Agus Sudibyo menilai, dalam peliputan, termasuk peliputan terorisme, kejujuran kalangan pers terhadap pembaca sangat penting. Ia mengingatkan, jangan sampai pers dalam melakukan peliputan melakukan rekayasa terhadap fakta yang disampaikan kepada publik. Misalnya, melakukan rekayasa pengambilan gambar saat peliputan. (FER)***

Source : Kompas, Sabtu, 16 April 2011

KPK Geledah Kantor Bupati

Sabtu,
16 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

KPK Geledah Kantor Bupati

MANADO, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi, Jumat (15/4), menggeledah Kantor Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan di Amurang, Sulawesi Utara, terkait dugaan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2006-2007 senilai Rp 40 miliar.

Setelah penggeledahan, belasan pejabat dan mantan pejabat pengelola Keuangan Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) juga dimintai keterangan. Hingga Jumat petang, pemeriksaan masih berlangsung di lantai tiga Kantor Inspektorat Sulawesi Utara di Manado.

Kepala Inspektorat Sulawesi Utara Jeffry Korengkeng membenarkan kehadiran anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam tugasnya memeriksa dugaan korupsi Pemkab Minsel. Menurut dia, tim KPK sudah berada di Manado sejak Senin lalu dan melakukan pemeriksaan terhadap para pejabat.

”KPK hanya minta izin meminjam ruangan kepada kami. Selebihnya saya tidak tahu,” katanya.

Pemeriksaan di kantor Inspektorat itu berbeda dengan pemeriksaan sejumlah kasus dugaan korupsi oleh Wali Kota Manado dan Wali Kota Tomohon. Ketika itu pemeriksaan dilakukan di Kantor Kepolisian Daerah Sulut di Manado.

Dalam kasus terakhir, dugaan korupsi terjadi pada masa pemerintahan Bupati Ramoy Markus Luntungan, yang mengakhiri tugas Agustus 2010.

Akan tetapi, Ramoy enggan berkomentar mengenai pemeriksaan oleh KPK. Tahun 2010, Ramoy yang berpasangan dengan Hamdi Paputungan diusung PDI Perjuangan gagal dalam Pilkada Gubernur Sulut. ”Saya no comment,” kata Ramoy.

Kedatangan sembilan petugas KPK di Kantor Pemerintah Kabupaten Minsel, sekitar 90 kilometer dari Manado, mengagetkan para pegawai. Penggeledahan ruangan Dinas Pengelola Keuangan Pendapatan dan Aset yang berada di lantai satu, menjadi tontonan para pegawai.

Utang Rp 41 miliar

Bupati Minsel Teti Paruntu mengatakan, pemeriksaan itu terkait laporan masyarakat tentang penyelewengan dana APBD tahun 2006, 2007, dan 2008. Sebelumnya, KPK telah memeriksa pejabat Pemkab Minsel awal tahun 2010. ”Jadi ini pemeriksaan lanjutan, mengambil bukti dokumen,” kata Paruntu.

Sekretaris Daerah Pemkab Minsel Jemmy Kairupan menambahkan, 14 pejabat Minsel telah diperiksa KPK secara maraton. Antara lain Kepala Dinas Pertambangan Pengky Terok, yang pada tahun 2006 menjabat Kepala Bagian Umum.

Juga diperiksa mantan Kabag Keuangan James Tombokan dan Kepala Dinas Keuangan Pendapatan dan Aset Boy Pandeiroth.

Menurut Kairupan, laporan BPK atas pemeriksaan APBD Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan 2006 sampai 2009 bernilai buruk dan terjadi tambal sulam anggaran. Bahkan, tahun 2009 pengelolaan keuangan dinyatakan amburadul.

Dampak dari pengelolaan keuangan amburadul di dirasakan oleh Bupati Paruntu. Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan kini mengalami kesulitan keuangan dan memiliki utang Rp 41 miliar pada pihak ketiga.

”Ada banyak proyek pembangunan yang sudah dikerjakan oleh pihak ketiga tetapi belum dibayar. Akhirnya menjadi utang pemkab,” katanya. (ZAL)***

Source : Kompas, Sabtu, 16 April 2011

KEUANGAN DAERAH : Kejanggalan Ditemukan di RAPBD Aceh

Sabtu,
16 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

KEUANGAN DAERAH

Kejanggalan Ditemukan di RAPBD Aceh

BANDA ACEH, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Setelah terkatung-katung tanpa kejelasan, Jumat (15/4), Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Aceh 2011 akhirnya disetujui semua fraksi di DPR Aceh. Fraksi-fraksi di DPR Aceh dalam pendapat akhir mengungkapkan berbagai persoalan tentang kejanggalan RAPBD dan berbagai hal terkait keterlambatan pengesahan.

Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang hingga kini belum menyerahkan APBD 2011 kepada pemerintah pusat. Akibat keterlambatan itu, pemerintah pusat menunda penyaluran dana alokasi umum dan otonomi khusus, masing-masing sebesar 25 persen dan 30 persen. Tanggal 15 April 2011 ini adalah hari terakhir yang diberikan pemerintah pusat terhadap pembahasan RAPBD Aceh 2011.

Rapat paripurna pandangan umum fraksi atas RAPBD Aceh 2011 di Gedung DPRD Aceh, diwarnai unjuk rasa puluhan mahasiswa di Banda Aceh. Para mahasiswa menuntut APBD Aceh 2011 segera dituntaskan.

Dalam RAPBD Aceh 2011 disepakati plafon belanja anggaran sementara Rp 7,95 triliun atau naik Rp 1,1 triliun dari tahun 2010. Pendapatan disetujui Rp 7,06 triliun. Dengan demikian, terjadi defisit Rp 885,3 miliar. Defisit ditutup dengan sektor pembiayaan Rp 885,3 triliun.

Ketua Fraksi Partai Demokrat, Muhammad Tanwir Mahdi, dalam pandangan umumnya menyampaikan, untuk menutup kebutuhan anggaran, Pendapatan Asli Daerah 2011 Aceh hanya ditargetkan Rp 802,4 miliar. Jumlah itu untuk menutup kebutuhan aparatur saja belum cukup. Belanja aparatur menjadi pengeluaran terbesar dalam APBD Aceh 2011 yaitu Rp 1,17 triliun, atau meningkat dari 2010 sebesar Rp 1,14 triliun.

Fraksi Partai Demokrat juga menemukan beberapa kejanggalan, pemborosan, dan penyimpangan dalam RAPBD 2011. Pengadaan perlengkapan gedung kantor Rp 693 juta untuk kegiatan praktik gedung UPTB di Bireun, ternyata gedungnya belum selesai. ”Kegiatan-kegiatan ini harus ditunda,” katanya.

Kejanggalan lain adalah adanya nomenklatur program penanggulangan kemiskinan Rp 22,4 miliar, tetapi kegiatannya hanya pembangunan fisik kantor keuchik (kepala desa).

M Ramli Sulaiman dari Fraksi Partai Aceh, mengungkapkan, besarnya anggaran untuk infrastruktur dalam APBD Aceh 2011 ternyata belum banyak berdampak terhadap pembenahan infrastruktur di Aceh. (HAN)***

Source : Kompas, Sabtu, 16 April 2011

14 April 2011

Warga Jalan Olahraga Menikmati Jalan Berdebu

Kamis,

14 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE



JALAN BERDEBU – Jalan berdebu setelah direhabilitasi dirasakan warga yang bermukim di Jalan Olahraga Indramayu. Seperti tampak dalam gambar, jalan yang berdebu itu, Kamis (14/4/2011) siang. (Satim)*** Foto-foto : Satim

Warga Jalan Olahraga

Menikmati Jalan Berdebu

INDRAMAYU, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE Perbaikan jalan yang semestinya membuat nyaman warga setempat dan lalu-lintas yang lewat, namun kali ini justeru sebaliknya, membuat resah warga setempat, dan bahkan pedagang sarapan pagi pun terpaksa mengehentikan usahanya, konon, karena debu jalan berterbangan kemana-mana dan memicu polusi udara bagi warga sekitarnya. Fenomena ini dialami warga yang bermukim di sepanjang Jalan Olahraga Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat sekitar tiga hari terakhir.

Suminih (56), seorang pedagang kaki lima yang menjual dagangan sarapan pagi yang bermukim di Jalan Olahraga terpaksa menghentikan dagangannya sejak Selasa (12/4/2011), persis sejak jalan hotmiks yang berada di depan rumahnya direhab oleh pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu, Selasa (13/4/2011).

Bagi warga setempat, rehab jalan hari itu agak aneh, karena jalan hotmiks ditaburi dengan aspal yang diduga seadanya, kemudian ditaburi dengan sirtu giling berdebu, sehingga imbasnya debu-debu dan kerikil batu itulah yang menyebabkan sejumlah warga setempat pada mengeluh dan resah karena udaranya dinilai kurang sehat ketika banyak kendaraan yang lalu-lalang.

“Debu jalan itulah yang memaksa saya untuk tidak berdagang sarapan pagi di depan rumah,” ungkap Suminih kepada Pendopo Indramayu Online, Kamis (14/4/2011) siang.

Beberapa warga setempat pun tampaknya mengeluhkan rehab jalan yang memicu debu-debu berterbangan di Jalan olahraga tersebut. “Kalau pun ada hujan, debu tidak melayang di udara, namun kotornya tetap saja kemana-mana,” ujar Kurdi (45), warga lainnya.

Keluhan bernada serupa juga disampaikan beberapa tukang becak yang kebetulan tengah mangkal di Jalan Olahraga. “Saya juga merasa heran, mengapa rehab jalan untuk melapisi jalan yang berhotmiks hanya menggunakan aspal kicrit-kicrit, lalu ditaburi dengan batu giling kecil-kecil berdebu yang mirip sirtu,” tutur Darja (53), penarik becak yang kebetulan tengah mangkal di sana.

Warga setempat mengharapkan, setiap rehab jalan pihak Bina Marga Kabupaten Indramayu jangan sampai membuat warga sekitarnya diresahkan oleh debu-debu jalan. Akhirnya, muncul beberapa kecurigaan warga soal rehab jalan yang diduga asal-asalan. Walaupun warga juga merasa berterima kasih dengan diperbaikinya jalan yang ada di sekitarnya.

Beberapa informasi yang diperoleh Pendopo Indramayu Online menyebutkan, bahwa rehab jalan ditangani pihak Dinas Marga Kabupaten Indramayu, namun prakteknya, konon, dipihak ketigakan dan dikerjakan oleh pemborong tertentu yang kabarnya menjadi langganan pihak Dinas Bina Marga Kota Mangga itu. Meski musim tender proyek jalan hingga akhir Maret 2011 belum diumumkan atau belum dimulai.

Kabid Pemeliharaan Jalan pada Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu, Oemarsyah pernah mengatakan, beberapa ruas jalan yang diperbaiki sejak Maret 2011, konon, ditangani pihak ketiga. "Meski anggaran di Dinas Bina Marga saat ini belum ada. Jadi, pemborong itu pun belum dibayar. Modalnya masih dari pemborong tersebut," kata Oemarsyah tanpa menyebut indentitas perusahaan maupun nama pemborongnya, belum lama ini.

Adanya keresahan dan keluhan warga di Jalan Olahraga Indramayu sedianya hendak dikonfirmasikan kepada Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu, Soen Sudjarwo (atau yang akrab disapa Wowo), namun menurut beberapa stafnya, Kamis (14/4/2011) siang itu, konon, Wowo sedang tidak ada di kantornya.(Satim)*** Foto-foto : Satim

 

My Blog List

JASA PENGIRIMAN UANG

Site Info

Followers/Pengikut

PENDOPO INDRAMAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template