CARI BERKAH KLIK DI SINI

18 April 2011

PENANGGULANGAN TERORISME : Butuh Waktu Membongkar Jaringan

Senin,
18 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

PENANGGULANGAN TERORISME

Butuh Waktu Membongkar Jaringan

Bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat, sungguh mengejutkan. Tanpa pikir panjang, pelaku meledakkan bom di tengah jemaah yang akan mulai shalat Jumat. Sebagian besar aparat kepolisian yang akan menjalankan ibadah pun menjadi sasaran dan korban luka-luka.

Aksi bom bunuh diri itu diduga sangat terkait dengan aksi terorisme. Aksi terorisme selama ini memang bagaikan ”bom waktu”. Siapa saja dapat menjadi sasaran, tanpa batasan waktu dan tempat. Namun, dalam aksi bom bunuh diri di Polresta Cirebon, yang menjadi sasaran atau target terlihat lebih jelas.

Menurut pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam aksi itu terlihat unsur balas dendam. Mengapa? Karena, yang menjadi sasaran atau target lebih jelas, yaitu aparat kepolisian di lingkungan markas polresta.

Aparat kepolisian—yang selama ini bersusah payah menindak aksi-aksi terorisme—menurut Wawan, dinilai oleh kelompok radikal atau teroris sebagai pihak yang dapat menghalangi atau menghambat aksi-aksi mereka.

Aparat kepolisian yang menjadi target sebenarnya sudah dapat terbaca dengan adanya aksi-aksi sebelumnya, misalnya saat perampokan Bank CIMB Niaga, Medan. Aparat Brimob yang dianggap dapat menghalangi aksi fa’i (perampasan harta benda milik orang yang diyakini sah dilakukan dalam kondisi perang) pun menjadi sasaran. Lalu, terjadilah penyerangan kantor Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Aksi terorisme dengan cara bom bunuh diri tidak terlepas dari ideologi atau ajaran terorisme yang diindoktrinasikan. Akibatnya, muncul kelompok atau kader-kader muda yang memiliki tingkat militansi dan mampu menjadi eksekutor, yaitu pelaku bom bunuh diri.

Wawan menilai, aksi bom bunuh diri di masjid di lingkungan Mapolresta Cirebon tidak terlepas dari kondisi sebelumnya. ”Memang kasus itu perlu penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. Namun, kasus itu tentu ada kaitannya dengan kondisi sebelumnya,” katanya.

Menurut Wawan, aksi bom bunuh diri itu diduga terkait dengan kelompok-kelompok radikal yang pernah direkrut tersangka kasus terorisme, Nurdin M Top yang tewas ditembak aparat. Namun, ajaran-ajaran Nurdin M Top mengalir kepada kader-kader muda yang sempat direkrut.

Dengan ideologi atau ajaran yang ditanamkan, upaya memberantas terorisme menjadi tidak mudah. Pengamat di bidang pertahanan dan keamanan, Andi Widjajanto, dalam sebuah diskusi pekan lalu, mengatakan, pusat kekuatan terorisme terletak pada ideologi, selain jejaring dan kepemimpinan. ”Kalau pusat kekuatan terorisme terletak pada ideologi, deradikalisasi semakin sulit,” kata Andi. Alasannya, ideologi terorisme selalu ditanamkan dari generasi ke generasi di kalangan kelompok radikal.

Meskipun sulit, tidak berarti upaya mencegah ideologi terorisme berkembang menjadi buntu. Salah satu upaya yang dapat menghambat ideologi dan aksi terorisme berkembang adalah membuat produk undang-undang terorisme yang lebih kuat.

Ketentuan lebih kuat

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, dalam revisi UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme perlu ada ketentuan lebih kuat untuk mencegah terorisme berkembang.

Ansyaad menambahkan, perlu ada ketentuan yang mengatur bahwa tindakan-tindakan awal yang mengarah pada aksi terorisme, seperti menyebarkan kebencian atau permusuhan yang dapat mengancam keamanan negara, dinyatakan sebagai kejahatan.

Alasannya, setiap aksi terorisme pasti didahului perekrutan dan indoktrinasi ideologi terorisme (baiat). Setelah itu, aksi dilanjutkan dengan berbagai pelatihan dan bentuk aksi teror.

Jika ketentuan itu diberlakukan, menurut Ansyaad, aparat penegak hukum lebih mampu menindak kelompok radikal yang melakukan perekrutan dan penyebaran ajaran-ajaran terorisme. Dalam UU No 15/2003 saat ini, ketentuan seperti itu belum diatur sehingga menyulitkan aparat penegak hukum proaktif menindak sejak dini.

Sebagai gambaran, Internal Security Act (ISA) 1960 di Malaysia cukup efektif untuk mencegah paham dan aksi-aksi yang dapat mengancam keamanan publik dan negara. Sesuai Pasal 8 ISA, aparat keamanan Malaysia dapat menangkap orang yang dinilai bisa mengancam kepentingan nasional, keamanan negara, dan ketertiban umum.

Selain itu, lanjut Ansyaad, dalam revisi UU No 15/2003, BNPT juga mengusulkan agar laporan intelijen, seperti data dan informasi intelijen, dapat digunakan sebagai alat bukti. Dalam Pasal 26 UU No 15/2003 saat ini, laporan intelijen hanya menjadi bukti permulaan yang cukup, bukan alat bukti. Jika laporan intelijen, seperti data dan informasi, dapat menjadi alat bukti, aparat kepolisian pun dapat lebih mudah menangkap dan membuktikan dugaan tindak pidana dari tersangka kasus terorisme.

Kekuatan lain yang perlu ditambahkan dalam revisi UU No 15/2003 adalah masa penangkapan. Masa penangkapan selama satu minggu dalam UU No 15/2003 dinilai kurang lama bagi penyidik untuk mendalami pemeriksaan. ”Bertolak dari pengalaman selama 10 tahun ini, masa penangkapan tujuh hari itu terlalu singkat,” tutur Ansyaad.

Ansyaad menjelaskan, aksi terorisme terkait dengan jaringan. Oleh karena itu, polisi membutuhkan waktu yang cukup untuk cek silang di berbagai tempat atau bahkan di suatu negara. ”Apalagi, kondisi geografis di Indonesia ada kendala transportasi,” kata Ansyaad. Kalau masa penangkapan terlalu singkat, tersangka dapat dilepas karena pembuktian kurang kuat. (FERRY SANTOSO)***

Source : Kompas, Senin, 18 April 2011

KOMENTAR

Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Ferry Muhammad

Senin, 18 April 2011 | 11:45 WIB

walah .. nara sumber nya ngaco banget .. teroris indonesia diciptakan oleh kelompok yg menginginkan duit yg banyak.. caranya gampang dibikin radikal diajarin perang2an terus dijebak atau dibunuh kalu bisa, bikin berita yg sensasional ...beres , tinggal nunggu transferan duit .. kata mantan teroris yg sadar krn telah diperalat bikin bom itu gampang.

Balas tanggapan


  • cokorda mayun

Senin, 18 April 2011 | 11:31 WIB

pada era soeharto semuanya aman ekonomi bgs ,rukun antar umat semenjak reformasi terlalu banyak kejadian2 di tanah air kita ini ,saya harap para pejabat2 negara bisa mencari pelaku2 dan bisa menegakan hukum .jangan pandang bulu kalau bisa tembak di tempat saja

Balas tanggapan


  • ronald sinaga

Senin, 18 April 2011 | 11:53 WIB

SETUJU BANGET BOS

Balas tanggapan

Heboh Paket Sandal

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Heboh Paket Sandal

Sebuah paket dalam kardus berwarna coklat mendadak membikin heboh warga Gang Mawar 2, Kelurahan Nagrikaler, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Warga menyarankan Yusuf Arsy (28), penerima paket itu, mengamankannya di balai musyawarah dan segera melapor kepada polisi. Singkatnya, paket itu diduga bom.

Dalam kardus tertera nama penerima, Yusuf, dengan alamat Gang Mawar 2 Nomor 192 RT 81 RW 7, Kelurahan Nagrikaler. ”Ini betul alamat saya, tetapi saya tidak memesan barang atau punya saudara, teman, atau kenalan di Yogyakarta,” kata Yusuf Arsy.

Yusuf Arsy lalu berinisiatif membawa paket itu ke balai musyawarah dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian melapor ke polisi yang lalu buru-buru mengamankan paket itu dengan memasang garis pembatas sejak Rabu (13/4) siang. Dalam sekejap, warga berkerumun di sekitar lokasi dan penasaran dengan isi kardus. Isu paket bom pun beredar.

Paket tetap teronggok di dalam balai musyawarah yang berada di tengah permukiman padat penduduk. Garis pembatas polisi melingkarinya selama 24 jam, hingga tim dari Kepolisian Resor (Polres) Purwakarta datang pada Kamis siang. Tetapi, polisi tidak segera membuka atau berusaha ”menjinakkannya”. Sebab, dari penyelidikan sementara, ada beberapa nama Yusuf di kampung itu.

Polisi juga menyelidiki pengirim serta mengecek informasi paket ke PT Pos Indonesia Cabang Purwakarta. ”Ternyata paket dialamatkan ke Yusuf, mantan penghuni rumah ini, yang kini sudah pindah ke daerah Campaka, Purwakarta. Dia pindah delapan tahun lalu. Kebetulan penghuni rumah yang sekarang bernama Yusuf juga,” kata Kepala Polres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Ujang Bahtiar Permana.

Vickie Morav, Supervisor Proses dan Pengantaran PT Pos Indonesia Cabang Purwakarta, hadir di lokasi untuk memastikan bahwa paket itu benar dikirim melalui PT Pos Indonesia. Dalam dokumen pengiriman, tertera paket berisi sepatu.

Yusuf pun dipanggil untuk memastikan kebenaran nama dan alamat pengirim serta penerima paket. Setelah semua pihak terkonfirmasi, paket yang membuat warga Gang Mawar gelisah semalaman itu pun dibuka. Ternyata isinya sandal!(MKN)***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • emha makmur

Minggu, 17 April 2011 | 09:27 WIB

dasar latah

Balas tanggapan

Jakarta Tetap Kondusif

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Jakarta Tetap Kondusif

JAKARTA, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Aktivitas warga Jakarta dan sekitarnya hingga Sabtu (16/4) berlangsung normal. Kegiatan di tempat umum, seperti di Blok M, Tanah Abang, dan sejumlah kantor pemerintahan, tak terpengaruh peristiwa bom bunuh diri yang terjadi pada Jumat di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Kepolisian Daerah Metro Jaya mengimbau warga tetap waspada. ”Jangan panik. Pemerintah dan polisi sudah meningkatkan keamanan jauh-jauh hari sebelum bom Cirebon,” kata Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia, Sabtu.

Pada pertengahan Maret lalu, Jakarta juga dihebohkan oleh adanya pengiriman bom buku. Bom itu dialamatkan kepada mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gories Mere, Ketua Pemuda Pancasila Yapto S Soerjosoemarno, dan musisi Ahmad Dhani. Selain itu, sebuah paket bom juga ditemukan di tepi Jalan Bulevard, Perumahan Kota Wisata, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Cucu, setelah adanya pengiriman bom buku pada pertengahan Maret itu, para camat hingga ketua RT/RW dituntut untuk makin mengenal wilayahnya. Komunikasi antarpemimpin wilayah juga ditingkatkan.

Pengamanan diperketat

Menurut keterangan Kepala Bagian Operasional Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sujarno, pengamanan markas Polri, polda, polres, hingga polsek dan pospol juga diperketat. ”Sistem pengamanan itu biasanya sudah diterapkan, tetapi makin ditingkatkan pascabom Cirebon,” kata Sujarno.

Setiap orang yang memasuki kompleks Markas Polres Jakarta Selatan harus menunjukkan kartu identitas dan menyebutkan keperluan kedatangan. Mobil sampai tas pengunjung yang masuk diperiksa dengan teliti. ”Pemeriksaan dilakukan lebih mendetail,” kata Kepala Bagian Humas Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Aswin.

Sejumlah markas polres di sekitar Jakarta juga memperketat keamanan. Pintu masuk kawasan Kantor Polrestro Tangerang Kota, misalnya, telah dipasangi kamera pengintai (CCTV).

”Kapolda sudah memberikan atensi agar kami waspada,” ucap Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Tavip Yulianto.

Fasilitas publik juga menjadi target utama pengamanan polisi. Di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, misalnya, terlihat polisi bersenjata lengkap berpatroli.

Para camat juga sudah bergerak. Camat Menteng, Jakarta Pusat, Efri, misalnya, sudah berkoordinasi dengan musyawarah pimpinan kota dan kecamatan. Siskamling atau ronda bekerja sama dengan polisi, satpam, dan satpol PP sampai tingkat RT/RW juga telah dilakukan. ”Pengamanan harus ketat,” kata Efri. (NEL/PIN)***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

17 April 2011

Polisi Lakukan Tes DNA Pelaku dan Keluarga

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Polisi Lakukan Tes DNA

Pelaku dan Keluarga

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam merilis foto wajah pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, saat jumpa pers di Rumah Sakit Polri Sukanto, Jakarta, Sabtu (16/4). (KOMPAS/RIZA FATHONI)***

JAKARTA, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Kepolisian Negara RI masih berupaya memastikan identitas pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon pada Jumat (15/4). Tes deoxyribonucleic acid (DNA) dilakukan untuk mencocokkan data genetika dan golongan darah pelaku dengan pihak yang diduga orangtua dan keluarga pelaku. Polisi telah mencurigai pelaku aksi bom adalah warga Cirebon berinisial MS.

Hingga Sabtu (16/4) sore, dari 28 korban luka, 13 korban masih dirawat di rumah sakit. Sisanya diperbolehkan pulang menjalani rawat jalan.

”Kami memerlukan waktu 1 x 24 jam untuk memastikan meskipun sudah ada 80 persen keyakinan. Apabila cocok, orangtuanya akan diizinkan melihat jenazah pelaku,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Jakarta kemarin.

Dalam identifikasi awal, menurut Anton, pelaku diketahui bergolongan darah O. Pengecekan sampel darah dan DNA diperkirakan selesai pada Minggu (17/4) pagi.

Sementara itu, Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigadir Jenderal Musaddeq Ishak mengungkapkan, polisi masih mencocokkan sidik jari dan data gigi pelaku dengan basis data yang dimiliki.

Pelaku yang berjenis kelamin lelaki ini diperkirakan berusia 25-35 tahun, dengan tinggi badan 181 cm, berat badan 70 kilogram, ukuran sepatu 43 (10 inci), dan berkulit kuning langsat. Selain berasal dari ras Mongoloid, pelaku memiliki tanda seperti bekas luka yang sudah sembuh di dahi kiri, gigi seri atas yang pernah patah, bekas luka akibat jamur di kuku ibu jari tangan kiri, dan tanda lahir di paha kanan.

Pelaku, lanjut Anton, mengenakan celana lima lapis—2 celana pendek dan 3 celana panjang—ketika beraksi. Ini menyeimbangkan bom yang dilekatkan semacam tas ke dada dan perut.

Di tubuh pelaku tidak ditemukan identitas apa pun, kata Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Mathius Salempang, kecuali kertas tanda pembayaran makan bertanggal hari Jumat itu. Mathius menolak menyebutkan lokasi tempat tersebut.

Pukul 12.17 menjelang shalat berjemaah, setelah khatib turun dari mimbar, pelaku menerobos ke depan, ke barisan nomor dua tengah, dan meledakkan diri. Korban luka pun berjatuhan di sekitar pelaku.

Menurut Anton, korban luka ringan mencapai 24 orang, dengan 8 di antaranya menjalani rawat jalan. Korban luka berat 6 orang (bukan 28 orang seperti diberitakan kemarin). Korban meninggal hanya 1 orang, yakni sang pelaku. Seorang di antara para korban luka adalah warga sipil, yakni Ustaz Abas.

Terkait bom yang digunakan, Mathius mengatakan, bom masih dicoba dirakit supaya diketahui karakternya. Dari olah tempat kejadian perkara, bahan yang digunakan paku, mur, dan baterai.

Tentang bahan peledak yang digunakan, Mathius menyatakan belum dapat memastikan jenisnya. Juga belum dapat dipastikan pelaku bom bunuh diri dari kelompok teroris mana kendati dari cara kerja, modus, dan bom yang digunakan bisa diperkirakan. ”Dugaan polisi, pelaku adalah rekrutan baru sebab terkesan belum ahli dalam merakit bom. Pelaku mendapat doktrin bahwa pemerintah dan polisi sebagai tentara setan. Apalagi, polisi memang banyak menangkap teroris,” ujar Anton, sambil menambahkan, jajaran kepolisian diminta meningkatkan kewaspadaan.

Dicurigai

Dari Cirebon, polisi mencurigai bahwa pelaku peledakan bom yang tewas dalam insiden bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Mapolresta Cirebon, Jumat (15/4) pukul 12.20, adalah warga Cirebon.

Kepala Bagian Perencanaan Polres Kota Cirebon Komisaris Sutisna kemarin menjelaskan kepada pers, warga yang dicurigai dan tewas di lokasi kejadian itu berinisial MS, warga Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, yang diketahui hilang sejak ledakan bom terjadi Jumat, siang. Untuk memastikan keterlibatan MS, polisi telah meminta keterangan kepada tiga anggota keluarga MS, yaitu kedua orangtuanya, Gofur (60) ayahnya dan ibunya, Ratu Srimulat (57), serta adik kandung MS bernama Toni (20).

Menurut Sutisna, keterlibatan MS masih belum bisa dipastikan karena ada berbagai tahapan yang harus dilalui, termasuk rangkaian tes DNA pada orangtua dan akan dicocokkan dengan DNA korban tewas tersebut. Setidaknya perlu waktu 3-4 hari.

Sebaliknya, keluarga MS juga belum memberikan kepastian apakah anaknya, MS, adalah benar pelaku bom bunuh diri itu.

Elang Rasid (62), paman MS yang ditemui di Cirebon, mengatakan, keponakannya memang tidak ada lagi di rumah saat ini. Polisi juga telah membawa kedua orangtua dan adik MS ke Jakarta pada Jumat malam, sekitar pukul 22.00. Sebelumnya mereka diperiksa di Hotel Prima di Cirebon.

”Saat polisi menunjukkan foto korban bom bunuh diri yang juga diduga sebagai pelaku, Ratu Srimulat langsung menangis. Mungkin wajah dalam foto itu mirip dengan anaknya,” kata Rasid, Sabtu (16/4). Ratu Srimulat adalah adik kandung Rasid.

Kurang komunikasi

Rasid menggambarkan bahwa keluarga Gofur-Ratu Srimulat memang kurang berkomunikasi dengan keluarganya.

Rasid menjelaskan, baru pada Jumat malam, setelah peristiwa bom bunuh diri terjadi, ia mengenal istri MS yang tinggal di Majalengka. ”Itu pertama kali saya mengetahui istrinya. Saat menikah, dia (MS) pun tidak bercerita atau mengundang saya,” ujar Rasid.

Menurut Rasid, keponakannya itu jarang ditemuinya sejak masih kanak-kanak. ”Saya terakhir kali bertemu dia Lebaran tahun lalu. Bukan hanya dengan MS, saya juga jarang berkomunikasi dengan kedua orangtua dan saudara MS yang lain,” kata Rasid.

Rasid juga tidak paham aktivitas keseharian MS. Selama bertahun-tahun keduanya tidak bertemu.

MS yang diperkirakan berusia 30 tahun itu, menurut Rasid, tinggal bersama istrinya di Majalengka. Namun, Rasid mengaku tidak tahu lokasi rumah mereka.

Istri MS diketahui sedang hamil sembilan bulan. Awalnya, istri MS itu akan dibawa serta ke Jakarta untuk dimintai keterangan. ”Namun, tidak jadi. Mungkin pertimbangannya karena sedang hamil tua,” ujar Rasid.

Perawatan

Hingga Sabtu sore, 11 korban ledakan bom masih dirawat di RS Pelabuhan serta 2 korban di RS Pertamina Cirebon, yakni Kepala Polres Kota Cirebon Ajun Komisaris Besar Herukoco dan Kepala Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon Komisaris Suhadi.

Menurut Kepala Humas RS Pelabuhan Yeni Rahmawati, Sabtu siang, tiga korban dioperasi ulang di RS Pelabuhan karena belum semua material bom yang masuk ke dalam tubuh korban bisa diambil.

Staf Humas dan Pemasaran RSU Pertamina Cirebon, Muhammad Nur, mengungkapkan, dokter memeriksa ulang Kepala Polres Kota Cirebon Herukoco. Sampai dengan pukul 02.00, dokter bisa mengeluarkan 31 serpihan logam, paku, dan mur dari tubuh Herukoco. Logam masuk di punggung dan lengan korban.

Selain Herukoco, kini RSU Pertamina Cirebon juga merawat Kepala Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon Komisaris Suhadi. Suhadi sebelumnya dirawat di RS Pelabuhan Cirebon. Karena memerlukan penanganan lebih intensif, ia dipindahkan ke RSU Pertamina Cirebon. Dokter menemukan 14 lempengan logam di tubuh Suhadi, tersebar di lengan dan punggung.

Teror bom di Manado

Sabtu (16/4) pagi aksi teror bom juga terjadi di Kantor Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Penduduk sekitar panik setelah ditemukan bungkusan tas plastik warna hitam berisi rangkaian elektronik dan kabel hitam serta kardus menyerupai bom di depan pintu masuk kantor sinode.

Bungkusan plastik ditemukan Benny Tular, petugas keamanan Kantor Sinode GMIM, pukul 05.30. Benny yang curiga bungkusan itu berbahaya langsung melapor kepada Ketua Sinode GMIM Dr Pdt Piet Tampi MTh.

Tampi kemudian lapor ke Polres Kota Tomohon. Dia curiga bungkusan itu bom setelah melihat rangkaian kabel menjulur keluar kardus.

Kapolres Kota Tomohon Ajun Komisaris Besar Suyanto minta bantuan tim penjinak bom dari Kepolisian Daerah Sulawesi Utara dan pukul 09.30 benda itu diledakkan. ”Saat diledakkan tak terdapat bahan peledak seperti serbuk mesiu,” kata Suyanto.

Peledakan dilakukan di lokasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa benda itu bukan bom.

Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Utara Ajun Komisaris Besar Benny Bela menambahkan, di dalam bungkusan plastik hitam terdapat juga pengatur waktu (timer) warna biru dan papan kecil. ”Tapi, ini bom main-mainan saja,” kata dia.

Pdt Piet Tampi menilai teror bom merupakan aksi provokasi. Ia berharap masyarakat tidak terpancing. (INA/REK/WIE/ELD/ZAL)***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

KOMENTAR

Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Lutfi Situmorang

Minggu, 17 April 2011 | 15:25 WIB

org tua capek nyekolahin..cita2nya cuma bunuh diri

Balas tanggapan


  • djoko kemal

Minggu, 17 April 2011 | 14:34 WIB

politik tingkat tinggi nih...susah diprediksi siapa dalangnya..

Balas tanggapan


  • Maman Espede

Minggu, 17 April 2011 | 11:21 WIB

bom bunuh diri? wow, takuuut

Balas tanggapan

Bangkit dari Trauma dan Luka Bom Bunuh Diri

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Bangkit dari Trauma

dan Luka Bom Bunuh Diri

Petugas medis pada RS Pelabuhan Cirebon, Sabtu (16/4), melepas infus di tangan Brigadir Dua Anton Helmi Kuswendi (kanan), salah satu korban luka ledakan bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jumat (15/4) siang. (Kompas/Siwi Nurbiajanti)***

Oleh Rini Kustiasih dan Siwi Nurbiajanti

Masih belum hilang dari ingatan Brigadir Dua Anton Helmi Kuswendi (23), warga Jalan Kopo, Bandung, peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jumat (15/4) siang.

Saat itu, ia dan puluhan polisi lainnya sedang khusyuk beribadah shalat Jumat di masjid tersebut.

Tidak pernah tebersit pula dalam pikiran Anton bahwa bom akan meledak di tengah kekhusyukan orang-orang beribadah. Ia juga tidak pernah menyimpan rasa curiga bahwa akan ada orang yang tega berbuat jahat kepada mereka.

”Tidak curiga sama sekali,” ujar pria yang sudah tiga tahun bekerja sebagai polisi tersebut.

Saat kejadian, Anton mengaku berada pada saf atau baris ketiga pojok kanan. Jumlah orang yang mengikuti ibadah shalat Jumat diperkirakan sekitar 30 orang.

Tiba-tiba bom meledak dari baris kedua dan serpihannya mengenai para jemaah shalat Jumat di Masjid Adz-Dzikro, termasuk dirinya.

Anton yang bekerja sebagai staf keuangan pada Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon mengalami luka di bagian perut, lengan, dan kepala akibat terkena paku, mur, serta serpihan lampu.

Bahkan, serpihan daging orang yang diduga sebagai pelaku juga menempel di pipi kirinya.

Saat ditemui di RS Pelabuhan, Sabtu (16/4) siang, Anton sedang bersiap untuk pulang ke rumah karena kondisi kesehatannya sudah membaik. Ia ditemani ibunya, Elis (48), dan istrinya, Eva (26).

Sebagai salah satu korban dari peristiwa bom bunuh diri, ia mengaku membenci tindakan yang dilakukan pelaku bom bunuh diri. Meski demikian, ia tidak ingin larut dalam kebencian tersebut.

Peristiwa itu akan ia jadikan pelajaran berharga dalam hidup. Ia mengaku akan semakin waspada, semakin teliti, dan tidak mudah percaya terhadap orang yang baru dikenal. Yang pasti, ia juga berharap agar peristiwa serupa tidak terulang.

Ajun Inspektur Satu Yon Patriono (50) juga mengaku trauma dengan ledakan bom bunuh diri yang terjadi di masjid Polres Kota Cirebon.

Nyeri di lengan kanan dan kiri memang masih dia rasakan. Namun, nyeri paling parah justru dia rasakan di dalam sanubarinya.

”Bom itu biadab dan tidak berperi kemanusiaan. Saat semua orang bersiap untuk beribadah kepada Tuhan, dia justru mengganggu dengan meledakkan bom bunuh diri dan melukai banyak orang,” tuturnya.

Akibat peristiwa tersebut, Yon belum mau beribadah di masjid Polres. Ia mengaku masih shock dan belum bisa melupakan peristiwa itu. Jika sudah sehat, ia memilih untuk shalat di tempat lain. Bayang- bayang ledakan bom itu masih menghantui dirinya.

Bagi Ahyadi (39), pesuruh di bagian identifikasi sidik jari di Polres Kota Cirebon, peristiwa bom itu menjadi peringatan bagi dirinya agar tetap waspada di setiap tempat. Bahkan di lokasi peribadatan sekalipun, niat jahat orang selalu ada.

Wahiddin, korban lain, juga tidak pernah menduga ada orang yang tega berbuat jahat di tengah kegiatan ibadah.

Pria yang bekerja sebagai perawat di Polres Kota Cirebon tersebut juga mengalami luka gores di bagian perut dan lengan kiri. Namun, ia hanya menjalani rawat jalan. ”Telinga ini masih mengiang-ngiang,” tuturnya saat ditemui di RS Pelabuhan, Jumat malam.

Bom bunuh diri tidak hanya melukai orang-orang yang menjadi korban dalam peristiwa itu. Kejadian tersebut juga telah menghina dan melecehkan simbol agama dan simbol negara.

”Bom bunuh diri adalah kejahatan kemanusiaan yang sangat keji, tidak bermoral, dan tidak bertanggung jawab,” tutur Marzuki Wahid, perwakilan dari Masyarakat Multikultural Cirebon.

Meski demikian, ia berharap institusi kepolisian tetap memiliki keteguhan hati untuk tetap bekerja profesional dalam menegakkan hukum, keamanan, dan ketertiban di masyarakat. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih giat memerangi terorisme dan anarkisme sebagai musuh kemanusiaan.

Salah satu upaya memerangi terorisme, menurut dia, dengan memerangi kemiskian. Hal itu karena kemiskinan dianggap sebagai salah satu akar terorisme.

Selain itu, akar-akar terorisme lain yang juga harus diperangi adalah ketidakadilan pembangunan, ketidakadilan mendapatkan akses dalam banyak hal, dan korupsi. ”Kalau mau serius, memberantas terorisme sekaligus juga dengan mengurangi kemiskinan, menyelesaikan ketidakadilan, dan menyelesaikan korupsi,” tuturnya.***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

KOMENTAR

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Gregorious Aris Buntarman

Minggu, 17 April 2011 | 05:44 WIB

Samopai kiamat kemiskinan tetap ada. Jadi kemiskinan bukan akar terorisme. Di Jaman Bung Karno nggak ada terorisme kayak gitu.

Balas tanggapan


  • linggis keramat

Minggu, 17 April 2011 | 14:13 WIB

kemiskinan yang dialami bngsa indonesia melampaui batas akibat kebobrokan para pejabat negara,negara paling maju dan pling tegas hukumpun ada warganya yg miskin,tpi ga kya di indonesia tercinta waaaaaaaa

Balas tanggapan

LEDAKAN BOM : Polri Cocokkan Sampel Darah Pelaku

Sabtu,

16 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

LEDAKAN BOM

Polri Cocokkan Sampel Darah Pelaku

Sandro Gatra | Sabtu, 16 April 2011 | 18:21 WIB

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menunjukkan foto wajah pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, Sabtu (16/4/2011) di Jakarta. (TRIBUN NEWS/FX ISMANTO)***

TERKAIT:

JAKARTA, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE — Kepolisian telah mengambil sampel darah beberapa warga dalam satu keluarga yang diduga keluarga pelaku pengeboman di dalam Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Polres Kota Cirebon, Jawa Barat, Jumat (15/4/2011).

Kalau cocok, besok kira-kira pukul 13.00 akan kami publikasikan di Mabes Polri. Anton Bachrul Alam

"Sampel darah mereka dibawa ke Jakarta semalam. Kami mau mencocokkan dengan darah jenazah," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam ketika dihubungi wartawan, Sabtu (16/4/2011).

Anton mengatakan, jika DNA jenazah dengan DNA sampel yang diambil cocok, keluarga tersebut dapat mengambil jenazah di Rumah Sakit Polri Jakarta Timur.

"Kalau cocok, besok kira-kira pukul 13.00 akan kami publikasikan di Mabes Polri," kata Anton.

Seperti diberitakan, pelaku pengeboman diduga bernama Muhammad Syarif. Dia tercatat bertempat tinggal di RT 03 RW 06 Astana Garib Utara, Pekalipan, Kota Cirebon.

Polri juga telah merilis ciri-ciri pelaku, yakni berjenis kelamin laki-laki, ras mongoloid, golongan darah O, umur antara 25 dan 35 tahun, tinggi 181 cm, berat 70 kg, kulit kuning langsat, dan nomor sepatu 43 (10 inci).***

Source : Kompas.com, Sabtu, 16 April 2011

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • daniel tomapoka

Sabtu, 16 April 2011 | 20:26 WIB

baca dari media lain : Ketua Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) yang merupakan anggota FUI mengakui bahwa yang melakukan pengeboman Muhammad Syarif. "saat melakukan aksi bersama GAPAS dia selalu ikut, tapi bukan anggota" pernyataan yang konyol kalo bukan anggota kok masih boleh ikut??? beginilah kalo ormas2 yang membawa nama-nama "agama" tapi melakukan kekerasan dibiarkan terus menerus akan bermunculan ekstrimisme di kehidupan brmasyrakat. mending ga usah bawa2 agama mending ato dibubarin sekalian. seperti menunjukkan pemerintah seperti kehilangan "taji-nya" kalo organisasi2 seperti ini dibiarkan.

 

My Blog List

JASA PENGIRIMAN UANG

Site Info

Followers/Pengikut

PENDOPO INDRAMAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template