CARI BERKAH KLIK DI SINI

21 April 2011

Ditolak Warga Cirebon : Polri Siapkan Pondok Rangon untuk Syarif

Kamis, 21 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Ditolak Warga Cirebon

Polri Siapkan Pondok Rangon untuk Syarif

Maria Natalia | Inggried | Kamis, 21 April 2011 | 12:14 WIB

Maria Natalia Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE — Pihak kepolisian telah mengizinkan keluarga pelaku bom bunuh diri Cirebon, M Syarif Astanagarif, untuk mengambil jenazah yang bersangkutan. Akan tetapi, menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam, warga kampung halaman Syarif justru menolak jenazahnya dimakamkan di Cirebon. Tak hanya itu, Kesultanan Cirebon juga tidak mengizinkan pemakaman Syarif di tanah kelahirannya tersebut.

"Saya mendapat informasi dari Kapolda Jawa Barat bahwa yang bersangkutan ditolak untuk dimakamkan di kampungnya itu. Masyarakat di sana menolak," ujar Anton di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (21/4/2011).

Menurut dia, Kesultanan Cirebon menolak karena sangat mengecam keras aksi bom bunuh diri yang dilakukan Syarif. Oleh karena itu, Polri berencana akan menyiapkan tempat untuk pemakaman Syarif. "Kami siapkan di Pondok Rangon kalau tidak bisa dimakamkan di sana (Cirebon)," ujarnya.

Saat ini, Polri tengah menunggu tim dokter Rumah Sakit Polri Sukanto yang melakukan identifikasi terhadap jenazah Syarif sebelum dimakamkan. Kondisi jenazah Syarif hancur di bagian perut akibat bom berdaya ledak rendah yang dimasukkan ke dalam tas. Bom itu diledakkannya saat shalat Jumat pada 15 April 2011.***

Source : Kompas,com, Kamis, 21 April 2011/Gambar tambahan dari berbagai sumber.

Ada 17 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • joko wardiman

Kamis, 21 April 2011 | 16:16 WIB

Katanya: Alam Semesta diciptakan oleh-NYA untuk siapa dan seberapa besarkah yang kita ketahui ? Katanya: Tata Surya adalah Bagian dari Alam Semesta, terdiri dari INDUK Matahari dan anak-anaknya yang disebut Planet. Salah satunya disebut sebagai Planet BUMI, seberapa besarkah Tata Surya itu? Makhluk hidup yang disebut 'manusia', apakah benar dia adalah 'ciptaan' yang paling sempurna? Sungguh kasihan sekali Planet Bumi ini !!!


  • Majapahit

Kamis, 21 April 2011 | 15:45 WIB

dikubur yaaa dikubur, asalkan jangan di kubur di makam pahlawan aja.


  • Sinar Gaza

Kamis, 21 April 2011 | 14:54 WIB

sesungguhnya dalam Islam: orang hidup maupun yg sdh mati/jenazahnya -- tetap dihormati sama. maka ketika kita membunuh musuh misalnya, tidak boleh setelah mati, lalu jenazahnya kita aniaya, dipotong kepalanya/anggota lainnya, lalu ditancapkan di pohon dll. bahkan kita duduk di atas kuburan/injak2 kuburan orang pun tidak boleh. Islam amat menghormati jiwa= hidup/yg sudah mati. bahwa dia berdosa besar dll, itu urusan Alloh.


  • Ngurah Sudita

Kamis, 21 April 2011 | 15:29 WIB

Ya sudah kalo begitu kubur saja di pekarangan rumah anda atau kirim ke padang pasir di Arab sana


  • Larry Rabin

Kamis, 21 April 2011 | 14:41 WIB

Saya usulkan agar mayat Mohammad Syarif dibuang ke laut karena orang ini tidak bisa menghormati orang lain


  • tauhid ichyar

Kamis, 21 April 2011 | 14:41 WIB

Kasihan betul si Sarip ini, siapalah yang mencuci otaknya, sampai hilang rasa kemanusiaannya.


  • David F M

Kamis, 21 April 2011 | 13:56 WIB

sebenernya bgs juga ditolak ama warga, biar pelaku - pelaku lainnya dan keluarganya tahu bahwa tindakan nya itu sesat !!!, boro2 mati masuk surga di bumi aja mayat lo ga diterima...pimpinannya aja sendiri takut bom bunuh diri cuma bisa meracuni anggotanya yang tersesat tercuci otaknya untuk melakukannya....


  • moona mohamed

Kamis, 21 April 2011 | 14:15 WIB

setuju............... biar pelau yg lain berfikir dua kali untuk meledakan bom, di dunia mayatnya di tolak apalagi di ahirat


  • Roro Kidul

Kamis, 21 April 2011 | 13:34 WIB

Buang ke pantai biar dimakan ikan hiu, apa teroris berpikir yang jadi korban ???? orang-orang tak bersalah.....


  • Choiruddin Hanim

Kamis, 21 April 2011 | 13:08 WIB

Orang itu harus dapat perpikir yang bijaksana dan rasional..dari tanah akan kembali ketanah...tanpa melihat yang mati itu siapa...dan akan dikubur dimana..perbuatan orang yang sudah mati hanya tinggalkan cerita dari kejahatannya, tak akan mempengaruhi keadaan dimana dia dikuburkan, mungkin bisa menjadikan contoh bagi mereka yang masih hidup...gitu aja kok perot


  • Choiruddin Hanim

Kamis, 21 April 2011 | 13:08 WIB

Orang itu harus dapat perpikir yang bijaksana dan rasional..dari tanah akan kembali ketanah...tanpa melihat yang mati itu siapa...dan akan dikubur dimana..perbuatan orang yang sudah mati hanya tinggalkan cerita dari kejahatannya, tak akan mempengaruhi keadaan dimana dia dikuburkan, mungkin bisa menjadikan contoh bagi mereka yang masih hidup...gitu aja kok perot


  • reiy cute

Kamis, 21 April 2011 | 13:58 WIB

intinya mrk ga mw tanah mrk dikotori oleh teroris


  • Musicke Banyumas

Kamis, 21 April 2011 | 12:43 WIB

bagus..!! jangan kasih tempat (TERORIS) di lingkungan kita... HIDUP atau MATI...


  • Roro Kidul

Kamis, 21 April 2011 | 15:31 WIB

Islam....lah, Islam export dari timur tengah yang menghalalkan segala cara, Islam asli Indonesia itu toleran...karena campursari..!!!!


  • gilingan gilingan

Kamis, 21 April 2011 | 13:49 WIB

agamanya apa sih dia?


  • Miftah

Kamis, 21 April 2011 | 12:42 WIB

lwong udah mati aja kok di permasalahkan, emangnya tanah cirebon yang nyiptain siapa,,,????


  • Chan Paris

Kamis, 21 April 2011 | 13:24 WIB

Btul banget tuh... Tanah bkn milik manusia.. mereka ada hak apa tuh?? aneh manusia nya... biar aja yg Diatas yg mbri hukuman... qta ga usah ikt2n mhakimi, toh uda mninggal...


  • Semar Janoko

Kamis, 21 April 2011 | 12:32 WIB

yang nolak ga takut ya?

TEROR BOM : Adik M Syarif Diduga Juga Siap Nge-bom

Rabu, 20 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

TEROR BOM

Adik M Syarif Diduga Juga Siap Nge-bom

Benny N Joewono | Rabu, 20 April 2011 | 21:03 WIB

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menunjukkan foto wajah pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, Sabtu (16/4/2011) di Jakarta. (TRIBUN NEWS/FX ISMANTO)***

TERKAIT:

CIREBON, KOMPAS.com, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE Abdul Gafur, ayah M Syarif (32), pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, mengatakan, pihaknya sangat yakin kalau Achmad Basuki, adik Syarif, merupakan "pengantin" berikutnya yang juga siap melakukan aksi bom bunuh diri.

Menurut Abdul Gafur, yang ditemui wartawan di Cirebon, Rabu (20/4/2011), selain berdasarkan sejumlah video dan bukti lain yang ditemukan di rumah mertua Basuki, keyakinan Syarif juga didasarkan pada persamaan pemahaman agama dan ideologi antara Syarif dan adiknya.

"Kendati Basuki tidak sekeras kakaknya, tetapi soal pemahaman agama, mereka berdua memang sepaham dan seideologi," katanya.

Di sela-sela mencari-cari lokasi penguburan buat jenazah M Syarif di Kompleks TPU Jabangbayi, Cirebon, dia mengatakan, saat penggeledahan rumah H Maina, mertua Basuki di sentra batik Trusmi, di Blok Bangbangan RT 13, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, ditemukan empat unit rangkaian bom, 40 buku jihad, serta sembilan VCD dan foto-foto latihan ala militer.

Meski yakin bahwa Basuki merupakan "pengantin" berikutnya yang siap mengorbankan diri, Abdul Gafur mengaku tidak tahu sasaran ataupun target berikutnya. "Kalau soal sasaran berikutnya, saya tidak tahu-menahu," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Gafur juga melampiaskan kemarahannya kepada pihak-pihak yang dinilainya telah meracuni dan mencuci otak kedua anaknya untuk melakukan perbuatan biadab tersebut.

"Adanya pihak-pihak yang menjanjikan surga kepada anak-anak saya, sampai mereka bersedia melakukan perbuatan keji, adalah dajjal," katanya dengan nada suara bergetar dan kedua tangannya mengepal.

M Syarif melakukan aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon pekan lalu, sesaat menjelang shalat Jumat. Dia sendiri tewas seketika, sedangkan sejumlah anggota polisi, termasuk Kapolresta, mengalami cedera. ***

Source : Kompas.com, Rabu, 20 April 2011

Ada 74 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • abenx sekawan

Kamis, 21 April 2011 | 10:39 WIB

LEDAKIN TUH GEDUNG DPR....PASTIKAN ADA ISINYA....PASTI RAKYAT MENDUKUNGMU...LANJUTKAN..KATA sebeye..


  • Santana Lin

Kamis, 21 April 2011 | 10:37 WIB

terlalu percaya sama janji2 ke "SURGA".


  • tjetje soetisna

Kamis, 21 April 2011 | 10:35 WIB

Guru para teroris yang sudah ditangkap sebaiknya ditempatkan sendirian diselnya, biarkan dia merenung dan jangan diberikan kesempatan Ceramah di LP, karena sifat orang tua apalagi ustadz pasti ingin didengar pengalamannya, buruk maupun baik. Saya inget temen yang orangtuanya mantan Dandim terus jadi Bupati jaman ORBA setelah pensiun setiap ada kesempatan semua orang pasti diajak ngobrol, menceritakan perjuangan dlsb. lama2 bosen juga. Akhirnya dengan bijak setiap hari anak2nya diam2 bayar tukang becak suruh mangkal depan rumah untuk jadi pendengar yang baik.


  • iDoddy Ruswand

Kamis, 21 April 2011 | 09:19 WIB

Jangan terlalu menyalahkan anak-anak muda yang jadi bom bunuh diri itu, yang penting intelejen pemerintah harus segera bisa menemukan dan menangkap guru2/ustadz2 yang 'mencuci otak' mereka, untuk memutus rangkaian bom bunuh diri berikutnya. Ustadz2 semacam ini di penjara harus diisolasi, jangan sampai mendapatkan/menciptakan 'kader' baru di sel penjara.............


  • ho ju liung aliong

Kamis, 21 April 2011 | 09:09 WIB

Kebencian hanya akan melahirkan kehancuran.


  • suharsono onos

Kamis, 21 April 2011 | 09:09 WIB

di salah satu talkshow live di TVone....bp ghofur bilang..."ini adalah perbuatan yahudi yang telah meracuni dan mencuci otak m. syarif dan adiknya...." saya sayangkan kenapa malah menyalahkan yahudi...KAFIR......DAN LAIN2.....APA NGGA ADA YANG LAIN YANG DISALAHKAN...SEMISAL....SALAH ORANG TUA KARENA NGGA NGAJARIN YANG BENER....ATAU KARENA SALAH PENAFSIRAN KITAB SUCI.....??????


  • ari penpen

Kamis, 21 April 2011 | 10:58 WIB

setuju!introspeksi diri sajalah..


  • Ahmad Irwin

Kamis, 21 April 2011 | 10:07 WIB

Karena yang paling mudah disalahkan adalah Yahudi dan Amerika, kalau menyalahkan orang tua berarti mempermalukan diri sendiri.


  • suharsono onos

Kamis, 21 April 2011 | 09:09 WIB

di salah satu talkshow live di TVone....bp ghofur bilang..."ini adalah perbuatan yahudi yang telah meracuni dan mencuci otak m. syarif dan adiknya...." saya sayangkan kenapa malah menyalahkan yahudi...KAFIR......DAN LAIN2.....APA NGGA ADA YANG LAIN YANG DISALAHKAN...SEMISAL....SALAH ORANG TUA KARENA NGGA NGAJARIN YANG BENER....ATAU KARENA SALAH PENAFSIRAN KITAB SUCI.....??????


  • ari penpen

Kamis, 21 April 2011 | 10:54 WIB

yah begitulah paling gampang emang salahin pihak lain..


  • dewi arradini

Kamis, 21 April 2011 | 08:53 WIB

Islam tidak suka kekerasan, dan tidak ada agama yang "mengahlalkan" pembunuhan. Apabila sudah melaksanakan kewajiban sebagai muslim sesuai dengan tuntunan dan meneladani Rasul tentu hal2 yang bersifat sesat ( terorisme mengatas namakan agama) tidak akan terjadi. Pembunuhan apapun alasannya tidak dibenarkan, kita ini manusia harusnya bisa beradab..


  • thecutecat

Kamis, 21 April 2011 | 08:31 WIB

Nabi itu diutus untuk memperbaiki akhlak. Kalau anda muslim tapi akhlaknya tak bener maka anda gagal memahami ajaran Nabi Muhammad SAW. Apalagi ngawur membunuh orang biar diri sendiri dapat tiket instan masuk surga.. Weleh, apa anda yakin itu benar? Apa anda ketemu ALLAH sendiri yang mengatakan demikian? Perjuangan Nabi dulu tak dengan cara merugikan orang lain apalagi umat islam sendiri begini.


  • mohamad syahril

Kamis, 21 April 2011 | 09:15 WIB

kerukunan UMat beragama di Indonesia selalu Damai sejak jaman kemerdekaan, karena merasa senasip di jajah Belanda, Mengapa sekarang ...? dunia barat/amerika sepertinya berperan untuk mengahncurkan kedamaian di negara ini, seperti negara2 arab yg telah di pengaruhinya dengan bom bunuh diri


  • Paulus Sim

Kamis, 21 April 2011 | 08:18 WIB

Pak Abdul Gafur, waktu kecil anak-anaknya tidak diajar mengaji? Saya lihat, muslim yang sejak kecil didikan agamanya kuat, justru tidak fanatik. Teman saya sholat 5 waktu tidak pernah ketinggalan, rajin puasa, tapi dgn santai bisa menikmati lagu-lagu natal klasik.


  • day one

Kamis, 21 April 2011 | 09:05 WIB

ini soal keyakinan dihati pak, kita tidak menyalahkan orang karena yang merubah hati bukan orang.


  • day one

Kamis, 21 April 2011 | 09:05 WIB

ini soal keyakinan dihati pak, kita tidak menyalahkan orang karena yang merubah hati bukan orang.


  • icyam cuk

Kamis, 21 April 2011 | 08:01 WIB

Kalo ngebom di gedung DPR aja.. pasti didukung rakyat.


  • wanderson Jesmahir

Kamis, 21 April 2011 | 10:29 WIB

Termasuk anggotanya mas,pasti jadi pahlawan rakyat deh gak di sebut teroris hehehehe ayooo bomber Bom tuh anggota DPR, setujuu... hehehehe


  • Ahmad Irwin

Kamis, 21 April 2011 | 10:09 WIB

Saya sebagai Rakyat tidak mendukung pengerusakkan Gedung DPR


  • anthony kusumo

Kamis, 21 April 2011 | 10:00 WIB

menyelesaikan masalah tanpa kekerasan juga tak menyelesaikan masalah .. kelompok garis keras HARUS DITRKANA DGN KEKERASAN! mereka mencoba menyelesaikan masalah dgn kekerasan/ngebom tanpa pernah diskusi!


  • Ray C

Kamis, 21 April 2011 | 08:43 WIB

Loh..BOM gedung DPR itu gak menyelesaikan masalah mas... yang di BOM anggotanya.


  • zaid romly

Kamis, 21 April 2011 | 08:27 WIB

Tipe seperti anda ini yang mudah dicuci otak. Jangan pake kekerasan menyelesaikan masalah mas.


  • Guru Birong

Kamis, 21 April 2011 | 07:48 WIB

Amin. Semoga setiap orang menyebarkan kebaikan


  • anthony kusumo

Kamis, 21 April 2011 | 10:01 WIB

menyelesaikan masalah tanpa kekerasan juga tak menyelesaikan masalah .. kelompok garis keras HARUS DITEKAN DGN KEKERASAN! mereka mencoba menyelesaikan masalah dgn kekerasan/ngebom tanpa pernah diskusi!


  • rikha aan

Kamis, 21 April 2011 | 07:23 WIB

seharusnya pemerintah dan panutan agama mengupayakan memberantas semua jalan dimana cuci otak dapat berlangsung, termasuk menghapus ayat-ayat kitab yang rasialis dan membangkitkan ide membunuh manusia. rahayu

18 April 2011

PENANGGULANGAN TERORISME : Butuh Waktu Membongkar Jaringan

Senin,
18 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

PENANGGULANGAN TERORISME

Butuh Waktu Membongkar Jaringan

Bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat, sungguh mengejutkan. Tanpa pikir panjang, pelaku meledakkan bom di tengah jemaah yang akan mulai shalat Jumat. Sebagian besar aparat kepolisian yang akan menjalankan ibadah pun menjadi sasaran dan korban luka-luka.

Aksi bom bunuh diri itu diduga sangat terkait dengan aksi terorisme. Aksi terorisme selama ini memang bagaikan ”bom waktu”. Siapa saja dapat menjadi sasaran, tanpa batasan waktu dan tempat. Namun, dalam aksi bom bunuh diri di Polresta Cirebon, yang menjadi sasaran atau target terlihat lebih jelas.

Menurut pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam aksi itu terlihat unsur balas dendam. Mengapa? Karena, yang menjadi sasaran atau target lebih jelas, yaitu aparat kepolisian di lingkungan markas polresta.

Aparat kepolisian—yang selama ini bersusah payah menindak aksi-aksi terorisme—menurut Wawan, dinilai oleh kelompok radikal atau teroris sebagai pihak yang dapat menghalangi atau menghambat aksi-aksi mereka.

Aparat kepolisian yang menjadi target sebenarnya sudah dapat terbaca dengan adanya aksi-aksi sebelumnya, misalnya saat perampokan Bank CIMB Niaga, Medan. Aparat Brimob yang dianggap dapat menghalangi aksi fa’i (perampasan harta benda milik orang yang diyakini sah dilakukan dalam kondisi perang) pun menjadi sasaran. Lalu, terjadilah penyerangan kantor Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Aksi terorisme dengan cara bom bunuh diri tidak terlepas dari ideologi atau ajaran terorisme yang diindoktrinasikan. Akibatnya, muncul kelompok atau kader-kader muda yang memiliki tingkat militansi dan mampu menjadi eksekutor, yaitu pelaku bom bunuh diri.

Wawan menilai, aksi bom bunuh diri di masjid di lingkungan Mapolresta Cirebon tidak terlepas dari kondisi sebelumnya. ”Memang kasus itu perlu penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. Namun, kasus itu tentu ada kaitannya dengan kondisi sebelumnya,” katanya.

Menurut Wawan, aksi bom bunuh diri itu diduga terkait dengan kelompok-kelompok radikal yang pernah direkrut tersangka kasus terorisme, Nurdin M Top yang tewas ditembak aparat. Namun, ajaran-ajaran Nurdin M Top mengalir kepada kader-kader muda yang sempat direkrut.

Dengan ideologi atau ajaran yang ditanamkan, upaya memberantas terorisme menjadi tidak mudah. Pengamat di bidang pertahanan dan keamanan, Andi Widjajanto, dalam sebuah diskusi pekan lalu, mengatakan, pusat kekuatan terorisme terletak pada ideologi, selain jejaring dan kepemimpinan. ”Kalau pusat kekuatan terorisme terletak pada ideologi, deradikalisasi semakin sulit,” kata Andi. Alasannya, ideologi terorisme selalu ditanamkan dari generasi ke generasi di kalangan kelompok radikal.

Meskipun sulit, tidak berarti upaya mencegah ideologi terorisme berkembang menjadi buntu. Salah satu upaya yang dapat menghambat ideologi dan aksi terorisme berkembang adalah membuat produk undang-undang terorisme yang lebih kuat.

Ketentuan lebih kuat

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, dalam revisi UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme perlu ada ketentuan lebih kuat untuk mencegah terorisme berkembang.

Ansyaad menambahkan, perlu ada ketentuan yang mengatur bahwa tindakan-tindakan awal yang mengarah pada aksi terorisme, seperti menyebarkan kebencian atau permusuhan yang dapat mengancam keamanan negara, dinyatakan sebagai kejahatan.

Alasannya, setiap aksi terorisme pasti didahului perekrutan dan indoktrinasi ideologi terorisme (baiat). Setelah itu, aksi dilanjutkan dengan berbagai pelatihan dan bentuk aksi teror.

Jika ketentuan itu diberlakukan, menurut Ansyaad, aparat penegak hukum lebih mampu menindak kelompok radikal yang melakukan perekrutan dan penyebaran ajaran-ajaran terorisme. Dalam UU No 15/2003 saat ini, ketentuan seperti itu belum diatur sehingga menyulitkan aparat penegak hukum proaktif menindak sejak dini.

Sebagai gambaran, Internal Security Act (ISA) 1960 di Malaysia cukup efektif untuk mencegah paham dan aksi-aksi yang dapat mengancam keamanan publik dan negara. Sesuai Pasal 8 ISA, aparat keamanan Malaysia dapat menangkap orang yang dinilai bisa mengancam kepentingan nasional, keamanan negara, dan ketertiban umum.

Selain itu, lanjut Ansyaad, dalam revisi UU No 15/2003, BNPT juga mengusulkan agar laporan intelijen, seperti data dan informasi intelijen, dapat digunakan sebagai alat bukti. Dalam Pasal 26 UU No 15/2003 saat ini, laporan intelijen hanya menjadi bukti permulaan yang cukup, bukan alat bukti. Jika laporan intelijen, seperti data dan informasi, dapat menjadi alat bukti, aparat kepolisian pun dapat lebih mudah menangkap dan membuktikan dugaan tindak pidana dari tersangka kasus terorisme.

Kekuatan lain yang perlu ditambahkan dalam revisi UU No 15/2003 adalah masa penangkapan. Masa penangkapan selama satu minggu dalam UU No 15/2003 dinilai kurang lama bagi penyidik untuk mendalami pemeriksaan. ”Bertolak dari pengalaman selama 10 tahun ini, masa penangkapan tujuh hari itu terlalu singkat,” tutur Ansyaad.

Ansyaad menjelaskan, aksi terorisme terkait dengan jaringan. Oleh karena itu, polisi membutuhkan waktu yang cukup untuk cek silang di berbagai tempat atau bahkan di suatu negara. ”Apalagi, kondisi geografis di Indonesia ada kendala transportasi,” kata Ansyaad. Kalau masa penangkapan terlalu singkat, tersangka dapat dilepas karena pembuktian kurang kuat. (FERRY SANTOSO)***

Source : Kompas, Senin, 18 April 2011

KOMENTAR

Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Ferry Muhammad

Senin, 18 April 2011 | 11:45 WIB

walah .. nara sumber nya ngaco banget .. teroris indonesia diciptakan oleh kelompok yg menginginkan duit yg banyak.. caranya gampang dibikin radikal diajarin perang2an terus dijebak atau dibunuh kalu bisa, bikin berita yg sensasional ...beres , tinggal nunggu transferan duit .. kata mantan teroris yg sadar krn telah diperalat bikin bom itu gampang.

Balas tanggapan


  • cokorda mayun

Senin, 18 April 2011 | 11:31 WIB

pada era soeharto semuanya aman ekonomi bgs ,rukun antar umat semenjak reformasi terlalu banyak kejadian2 di tanah air kita ini ,saya harap para pejabat2 negara bisa mencari pelaku2 dan bisa menegakan hukum .jangan pandang bulu kalau bisa tembak di tempat saja

Balas tanggapan


  • ronald sinaga

Senin, 18 April 2011 | 11:53 WIB

SETUJU BANGET BOS

Balas tanggapan

Heboh Paket Sandal

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Heboh Paket Sandal

Sebuah paket dalam kardus berwarna coklat mendadak membikin heboh warga Gang Mawar 2, Kelurahan Nagrikaler, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Warga menyarankan Yusuf Arsy (28), penerima paket itu, mengamankannya di balai musyawarah dan segera melapor kepada polisi. Singkatnya, paket itu diduga bom.

Dalam kardus tertera nama penerima, Yusuf, dengan alamat Gang Mawar 2 Nomor 192 RT 81 RW 7, Kelurahan Nagrikaler. ”Ini betul alamat saya, tetapi saya tidak memesan barang atau punya saudara, teman, atau kenalan di Yogyakarta,” kata Yusuf Arsy.

Yusuf Arsy lalu berinisiatif membawa paket itu ke balai musyawarah dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian melapor ke polisi yang lalu buru-buru mengamankan paket itu dengan memasang garis pembatas sejak Rabu (13/4) siang. Dalam sekejap, warga berkerumun di sekitar lokasi dan penasaran dengan isi kardus. Isu paket bom pun beredar.

Paket tetap teronggok di dalam balai musyawarah yang berada di tengah permukiman padat penduduk. Garis pembatas polisi melingkarinya selama 24 jam, hingga tim dari Kepolisian Resor (Polres) Purwakarta datang pada Kamis siang. Tetapi, polisi tidak segera membuka atau berusaha ”menjinakkannya”. Sebab, dari penyelidikan sementara, ada beberapa nama Yusuf di kampung itu.

Polisi juga menyelidiki pengirim serta mengecek informasi paket ke PT Pos Indonesia Cabang Purwakarta. ”Ternyata paket dialamatkan ke Yusuf, mantan penghuni rumah ini, yang kini sudah pindah ke daerah Campaka, Purwakarta. Dia pindah delapan tahun lalu. Kebetulan penghuni rumah yang sekarang bernama Yusuf juga,” kata Kepala Polres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Ujang Bahtiar Permana.

Vickie Morav, Supervisor Proses dan Pengantaran PT Pos Indonesia Cabang Purwakarta, hadir di lokasi untuk memastikan bahwa paket itu benar dikirim melalui PT Pos Indonesia. Dalam dokumen pengiriman, tertera paket berisi sepatu.

Yusuf pun dipanggil untuk memastikan kebenaran nama dan alamat pengirim serta penerima paket. Setelah semua pihak terkonfirmasi, paket yang membuat warga Gang Mawar gelisah semalaman itu pun dibuka. Ternyata isinya sandal!(MKN)***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • emha makmur

Minggu, 17 April 2011 | 09:27 WIB

dasar latah

Balas tanggapan

Jakarta Tetap Kondusif

Minggu,

17 April 2011

PENDOPO INDRAMAYU ONLINE

Jakarta Tetap Kondusif

JAKARTA, PENDOPO INDRAMAYU ONLINE - Aktivitas warga Jakarta dan sekitarnya hingga Sabtu (16/4) berlangsung normal. Kegiatan di tempat umum, seperti di Blok M, Tanah Abang, dan sejumlah kantor pemerintahan, tak terpengaruh peristiwa bom bunuh diri yang terjadi pada Jumat di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Kepolisian Daerah Metro Jaya mengimbau warga tetap waspada. ”Jangan panik. Pemerintah dan polisi sudah meningkatkan keamanan jauh-jauh hari sebelum bom Cirebon,” kata Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia, Sabtu.

Pada pertengahan Maret lalu, Jakarta juga dihebohkan oleh adanya pengiriman bom buku. Bom itu dialamatkan kepada mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gories Mere, Ketua Pemuda Pancasila Yapto S Soerjosoemarno, dan musisi Ahmad Dhani. Selain itu, sebuah paket bom juga ditemukan di tepi Jalan Bulevard, Perumahan Kota Wisata, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Cucu, setelah adanya pengiriman bom buku pada pertengahan Maret itu, para camat hingga ketua RT/RW dituntut untuk makin mengenal wilayahnya. Komunikasi antarpemimpin wilayah juga ditingkatkan.

Pengamanan diperketat

Menurut keterangan Kepala Bagian Operasional Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sujarno, pengamanan markas Polri, polda, polres, hingga polsek dan pospol juga diperketat. ”Sistem pengamanan itu biasanya sudah diterapkan, tetapi makin ditingkatkan pascabom Cirebon,” kata Sujarno.

Setiap orang yang memasuki kompleks Markas Polres Jakarta Selatan harus menunjukkan kartu identitas dan menyebutkan keperluan kedatangan. Mobil sampai tas pengunjung yang masuk diperiksa dengan teliti. ”Pemeriksaan dilakukan lebih mendetail,” kata Kepala Bagian Humas Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Aswin.

Sejumlah markas polres di sekitar Jakarta juga memperketat keamanan. Pintu masuk kawasan Kantor Polrestro Tangerang Kota, misalnya, telah dipasangi kamera pengintai (CCTV).

”Kapolda sudah memberikan atensi agar kami waspada,” ucap Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Tavip Yulianto.

Fasilitas publik juga menjadi target utama pengamanan polisi. Di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, misalnya, terlihat polisi bersenjata lengkap berpatroli.

Para camat juga sudah bergerak. Camat Menteng, Jakarta Pusat, Efri, misalnya, sudah berkoordinasi dengan musyawarah pimpinan kota dan kecamatan. Siskamling atau ronda bekerja sama dengan polisi, satpam, dan satpol PP sampai tingkat RT/RW juga telah dilakukan. ”Pengamanan harus ketat,” kata Efri. (NEL/PIN)***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

 

My Blog List

JASA PENGIRIMAN UANG

Site Info

Followers/Pengikut

PENDOPO INDRAMAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template